Translate

Rabu, 03 Juli 2013

SEJARAH DAN PUSAKA SOEKARNO

Arsip untuk ‘SEJARAH DAN PUSAKA SOEKARNO’ Kategori

Pusaka-pusaka Bung Karno


Benda PusakaFoto: Benda Pusaka
Sebilah pusaka besar maknanya bagi Ir. Soekarno. Kecintaannya pada warisan leluhuritu, terlihat dari banyaknya tosan aji yang dimiliki. Salah satu pusaka sakti miliknya, didapat dari Gunung Nabi di Papua saat berkecamuk Perang Dunia (PD II).
ROKLAMATOR RI ini kabarnya memiliki ratusan pusaka. Padahal, putra sang fajar tersebut, dikenal sebagai sosok pria yang rasional dan bervisi jauh ke depan. Kendati demikian, sejarah kehidupannya, ternyata tidak lepas dengan hal-hal yang bersifat spiritual budaya, seperti keris, tombak, dan pusaka lain.
Sadar koleksinya bisa raib, atau lantaran rasa sukanya pada pusaka yang teramat tinggi, beberapa benda pusaka lalu diboyong ke istana.
Selanjutnya, dibuatkan tempat khusus dan dikelola oleh sebuah yayasan.
Adapun yang kedapuk mengurus benda-benda pusaka itu adalah Guruh Soekarnoputra, sebagai Ketua Yayasan Bung Karno yang berdiri sejak 1978. Bagi alumni Fakultas Arkeologi Universiteit van Amsterdam, Belanda ini, merawat pusaka ayahandanya jadi amat mengasyikkan.
Pimpinan Sanggar Tari Swara Mahardika ini pada suatu kesempatan pernah berujar bahwa benda-benda pusaka itu didapat dari leluhur, istana, dan keluarga. Istana yarig dimaksud adalah Istana Merdeka, Istana Bogor, Batutulis, dan lain-lain.
Bentuk pusaka-pusaka itu beragam. Ada keris, tombak, tongkat komando, dan sebagainya. Pusaka Bung Karno kebanyakan berasal dari jalur ayah, kakek moyang yang kebetulan berdarah Majapahit.
Sementara dari nenek atau ibu berasal dari keturunan Raja Buleleng. Dengan begitu ada juga yang berasal dari Singosari. Pusaka itu dikumpulkan sejak Bung Karno masih muda hingga jadi presiden dan sesudahnya. Jumlahnya masih terus diinventarisasi.
Sebab, pusaka itu ada beberapa yang masih di istana dan di keluarga, belum pernah dipanierkan pula. Belum termasuk cindera niata dari negara-negara lain, seperti batu giok dari Cina, pedagang Samurai dari Jepang, dan lainnya. Hingga sekarang, baru sepersepuluh benda peninggalan Bung Karno yang pernah dipamerkan. Keluarga Bung Karno merasa tidak heran bila ada beberapa pihak mengaku memiliki ‘tongkat komando’ Bung Karno. Sebab, segala sesuatu yang berhubungan dengan Bung Karno, selalu menjadi fenomena menarik. Tidak hanya di dalani negeri, tapi juga di luar negeri. “Kalau : ada yang mengklaim punya,: pusaka Bung Karno asli, itu urusan mereka. Apa pun klaim di luaran, itu terserah mereka,” papar Guruh pada sebuah media ibu kota.
Di Keluarga dan Istana
Bung Karno memang punya berbagai model tongkat komando. Tetapi yang paling sering dibawanya pada acara-acara kenegaraan, hanya satu atau dua. Adapun yang paling sering dibawa itu, tak lain sebilah tongkat dan juga keris yang ada di ruang hening.
Lantaran seringnya membawa tongkat saat bepergian, pada akhirnya memunculkan polemik di masyarakat. Tak sedikit warga masyarakat mengaku, memiliki pusaka Bung Karno. Mensikapi polemik tersebut, pihak keluarga tak ingin terpancing. Karena itu, jika ada orang yang mengaku memiliki tongkat atau keris Bung Karno, terlebih dulu harus dibuktikan keasliannya.
Ditegaskannya bahwa pusaka Bung Karno semua ada di keluarga dan di istana. Kalau ada keluarga tertentu merasa mempunyai pusaka, ada proses lanjut apakah bisa dibuktikan kebenarannya atau tidak.
Sejarah mencatat.pada dekade 1942 Bung Karno pernah berada di Babo, Papua. Wilayah ini punya arti dan nilai historis tinggi berkaitan erat dengan ‘Keris Pusaka’ yang diperoleh Bung Karno dari Gunung Nabi melalui Kaliopes Cosmos Werbete. Dia salah seorang pelaku sejarah setempat. Kepada wartawan dirinya pernah berkisah bahwa Bung Karno berada di Babo ketika Perang Duma (PD) II niasih berkecamuk. Tokoh yang kemudian menjadi salah satu Proklamator RI itu, jelasnya menjadi incaran tentara Jepang untuk dibunuh.
Guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, Bung Karno dilarikan dari Babo ke Kampung Refideso oleh Cosmos Werbete, kemudian menuju Gunung Nabi.”Di Gunung keramat itulah Bung Karno diberi keris wasiat,”ungkap Keliopes kepada wartawan ibu kota. Setelah membawa keris tersebut, Bung Karno berhasil meloloskan diri dari percobaan pembunuhan.
Tapi pada ujungnya, bersama Cosmos Werbete pemilik keris tersebut, Bung Karno diasingkan Belanda.
Digembleng Tokoh Kuno
Jiwa Jawi Bung Karno merupakan cerminan semangat hidup yang mengedepankan keutamaan. Menghargai hidup dan kehidupan. Baginya, hidup adalah memberikan bukti kebaikan dan karena itu semasa remaja dirinya gemar laku prihatin. Semua itu dilakukan untuk membentuk jiwa jawinya supaya sekokoh baja.
Konon, kegemaran laku ini berawal dari beberapa guru spiritualnya dari Jogjakarta yang tak diketahui siapa, sejatinya nama dari sang guru spiritual tersebut. Sebab, dalam dunia spiritual ada pantangan untuk tidak menyebut nama. Ada kisah nyalawadi sebelum Kusno lahir. Kala itu, Keraton Jogjakarta kehilangan sebilah pusaka sakti. Tiba-tiba entah dari niana asalnya, di lingkungan keraton muncul isu bahwa pusaka yang hilang tersebut bersemayam di rahim ibunda Bung Karno. Lalu lewat peristiwa gaib setelah Kusno lahir, langsung diangkat jadi murid tokoh trah Keraton Jogjakarta.
Meski Bung Karno dikenal rasional dan bervisi jauh ke depan, kehidupan presiden pertama RI ini tidak lepas dengan hal-hal yang bersifat spiritual-budaya, seperti keris, tombak dan pusaka lain. Karena itulah beberapa benda pusaka lalu diboyong ke istana.
Dan pusaka-pusaka itu kini dibuatkan tempat khusus yang dikelola sebuah yayasan. Lembaga yang mengurus benda-benda pusaka itu adalah Guruh Soekarnoputra, sebagai Ketua Yayasan Bung Karno sejak 1978. Bagi alumni Fakultas Arkeologi Universiteit van Amsterdam, Belanda ini, memelihara pusaka ayahandanya jadi amat mengasyikkan.
Guruh pernah mengemukakan pendapatnya soal pusaka peninggalan Bung Karno itu. Menurutnya benda-benda itu didapat dari leluhur, istana dan keluarga. Istana yang dimaksud adalah Istana Merdeka, Istana Bogor, Batutulis dan lain-lain. Bentuknya beragam, misal keris, tombak, tongkat komando dan sebagainya. Pusaka Bung Karno kebanyakan berasal dari jalur ayah, kakek moyang yang kebetulan berdarah Majapahit. Sementara dari nenek atau ibu berasal dari keturunan Raja Buleleng. Dengan begitu ada juga yang berasal dari Singosari.
Pusaka itu dikumpulkan sejak Bung Karno masih muda hingga jadi presiden dan sesudahnya. Jumlahnya masih terus diinventarisasi. Sebab, pusaka itu ada beberapa yang masih di istana dan di keluarga, belum pernah dipamerkan pula.
Hingga sekarang, baru sepersepuluh benda peninggalan Bung Karno yang pernah dipamerkan. Keluarga Bung Karno merasa tidak heran bila ada beberapa pihak mengaku memiliki ‘tongkat komando’ Bung Karno. Sebab, segala sesuatu yang berhubungan dengan Bung Karno, selalu menjadi fenomena menarik. Tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. “Kalau ada yang mengklaim punya pusaka Bung Karno asli, itu urusan mereka. Apa pun klaim di luaran, itu terserah mereka,” papar Guruh pada sebuah media ibukota.
Bung Karno memang punya berbagai model tongkat komando. Tetapi yang paling sering hanya satu atau dua. Yang paling sering dibawa, tongkat dan keris yang ada di ruang hening.
Jika di masyarakat ada yang mengaku memiliki pusaka Bung Karno, tak bisa dipercaya begitu saja. Harus ada pembuktian.
Pusaka Bung Karno semua ada di keluarga dan di istana. Kalau ada keluarga tertentu merasa mempunyai pusaka, ada proses lanjut apakah bisa dibuktikan kebenarannya atau tidak.
Pada 1942 Bung Karno pernah berada di Babo, Papua. Wilayah ini punya arti dan nilai sejarah tinggi berkaitan erat dengan ‘Keris Pusaka’ yang diperoleh Bung Karno dari Gunung Nabi melalui Cosmos Werbete.
Keliopes Werbete salah seorang pelaku sejarah menceriterakan kepada wartawan setempat, Bung Karno berada di Babo ketika Perang Dunia (PD) II masih berkecamuk. Tokoh yang kemudian menjadi salah satu Proklamator RI ini diincar tentara Jepang untuk dibunuh.
Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, Bung Karno dilarikan dari Babo ke kampung Refideso oleh Cosmos Werbete, kemudian menuju Gunung Nabi. “Di Gunung keramat itulah Bung Karno diberi keris wasiat,” ungkap Keliopes kepada wartawan ibukota.
Dan setelah membawa keris tersebut, Bung Karno berhasil meloloskan diri dari percobaan pembunuhan. Tapi pada ujungnya, bersama Cosmos Werbete pemilik keris tersebut, Bung Karno diasingkan Belanda.

Soekarno dalam Dunia Supranatural



BUNG Karno sejak kecil digembleng laku kebatinan Jawa. Bersama beberapa nama terkenal, sejak usia muda Bung Karno mengkaji, mendalami dan melakoni kebatinan. Dalam perjalanan hidup yang penuh ketidakadilan justru menjadi semangat untuk bangkit dan mencari sumber keadilan yang hakiki. Perjalanan laku yang sangat tinggi dilakukannya demi mencari hakekat hidup.
Berawal dari RM Said yang belajar dari desa Mojogedang Karang Pandan, Karang Anyar Jawa Tengah. Beliau pernah berguru kepada seorang pertapa wanita yang bernama Nyai Karang. Ketika berjuang beliau melawan Belanda, RM Mas Said menggunakan markasnya di desa Nglaroha. Didampingi senopati yang sekaligus gurunya (Kudono Warso), semakin hari ilmu jaya-kawijayan RM Said semakin tinggi.
Ilmunya kemudian diturunkan kepada anak cucunyya yang meneruskan perjuangannya melawan penjajah. Salah satu cucunya adalah sahabat Kyai Santri (KPH Djoyo Koesoemo). Selain diangkat sebagai penasehat pribadi Sunan Paku Buwono IV ,Kyai Santri diakui sebagai teman dalam mengasah ilmu sastra dan kebatinan. Tidaklah mengherankan jika kemudian Paku Buwono IV di kemudian hari melahirkan serat Centini, falsafah hidup, sebagai ensiklopedinya orang Jawa.
Perjuangan melawan Belanda, mengakibatkan Kyai Santri dikejar-kejar. Akhirnya beliau memilih keluar Kraton dan keliling tanah Jawa. Menghindari kejaran Belanda, dengan berkeliling Tanah Jawa, tiga kali sambil memperdalam ilmu kebatinannya. Kyai Santri berkawan pula dengan Ronggowarsito, Mangkunegoro IV dalam mengkaji dan tukar kawruh Jawa. Pada perjalanan akhirnya beliau memilih desa Giri Jaya di lereng Gunung Salak, Sukabumi, Jawa Barat sebagai tempat perhentian terakhir. Di sanalah beliau tinggal dengan didampingi dua orang istri beliau.
Perjalanan spiritualnya mampu menghadirkan Kanjeng Ratu Kidul sebagai guru beliau, Eyang Lawu (Kaki Semar) dan Leluhur lainnya sebagai seorang Guru. Murid-murid Kyai Santri cukup banyak, selalu dididik bagimana menjadi seorang pemimpin yang baik. Pendidikan yang berdasar pada budaya Jawa asli, dimana nurani sebagai Way of Life dan pikir sebagai alat untuk memimpin. Di antara murid beliau adalah Paku Buwono (PB) IV, Mangku Negoro (MN) IV, PB VI, PB IX , PB X, MN VII, HOS Cokroaminoto, Dr Wahidin Sudiro Husodo dan yang terakhir adalah Bung Karno. Beliau hidup hingga usia 159 tahun dan meninggal pada tahun 1929 Masehi di desa Giri Jaya Sukabumi.
Murid-murid beliau adalah pejuang sejati, pemimpin nasional, pujangga dan sekaligus negarawan. Ilmu-ilmu beliau sudah mencapai tataran tingkat tinggi dan mencapai alam makrifat. Manusia harus jadi “Manungso sejati, sejatine manungso”, di mana nurani sebagai titik dan sumber tuntunan bagi kehidupan, sedangkan pikir sebagai alat untuk menjalankan tuntunan Illahi tersebut. Beliau selalu mengajarkan bagaimana manusia mampu kembali menjadi manusia yang sebenarnya.
Dengan menyelaraskan batin, pikiran, ucapan dan perbuatannya, manusia akan menjadi manusia menurut kodrat Illahi. Sukma merupakan percikan Illahi, sebagai utusan Sang Pencipta (Ha- Hananira, wahanane Hyang). Pada hakehatnya bila manusia telah mampu menyelaraskan dan menyamakan antara batin, pikiran, ucapan dan perbuatannya, manusia tersebut telah mencapai alam makrifat. Manusia tersebut mampu berada posisi “Jumbuhing kawulo gusti”. Berarti manusia itu mampu menjadi seorang pemimpin (gusti = bagusing ati).
Dengan laku tapabrata yang sebenarnya seperti di atas, manusia kembali pada asalnya, hal ini dalam budaya Jawa disebut “Sangkan paraning dumadi”. Hakekat kehidupan manusia sama dengan ciptaan lainnya, menurut hukum ekosistem. Dalam budaya Jawa dikenal dengan “Cakra manggilingan”. Bila manusia mampu meletakkan batin, pikiran, ucapan dan perbuatannya sama, maka tidak ada lagi tuntunan lain kecuali tuntunan Sang Pencipta lewat batin/nuraninya. Swara dalam batin itulah yang disebut Swara Sejati.

Sejarah Soekarno dari masa kecil



Dapat artikel menarik nih yaitu tentang sejarah pak Karno terutama kisah-kisah masa kecilnya. Amat cocok bagi teman-teman yang ingin merubah nasibnya menjadi lebih baik. BAhwa kesuksesan tidak harus dimulai dari modal yang besar saja..melainkan tekad dan semangat untuk maju dan juga tekad yang kuat untuk berhasil menggapai semua cita-cita. Lebih lanjut mengenai kisah kecil soekarno simak artikel berikut:
Bung Karno: Bisa Benjol!
Walentina Waluyanti – Holland
Buat Bung Karno, nampaknya kesengsaraan tidak ada hubungannya dengan gaya dan penampilan. Bung Karno tidak menutup-nutupi masa lalunya yang melarat. Tentang bagaimana di masa kanak-kanaknya, dirinya tidak pernah mengenal sendok dan garpu.
Bung Karno juga mengenang bagaimana anak tetangga lain yang juga miskin, tapi mereka masih bisa membeli jajan buah pepaya dan lainnya, sementara dirinya sama sekali tidak mampu. Bahkan di hari Idul Fitri, dia cuma bisa menatap sedih anak-anak miskin lain mampu membeli petasan yang harganya cuma satu sen itu, sedang dirinya tidak. Satu sen pun dia tak punya!
Dia juga menceritakan, bagaimana di keluarganya dulu bahkan makan satu kali sehari pun, kadang tidak mampu. Tak jarang mereka hanya makan ubi kayu dan jagung tumbuk. Untuk membeli beras paling murah pun, ibunya tak sanggup. Solusinya, ibunya membeli padi yang masih harus ditumbuk untuk memperoleh butiran beras. Karena dengan cara begitu, mereka dapat menghemat uang satu sen dan dengan satu sen itu ibunya bisa membeli sayur.
Mungkin juga karena tumbuh dalam kondisi serba terbatas itu, Bung Karno tumbuh sebagai anak penyakitan. Kata Bung Karno, “Aku memulai hidup ini sebagai anak yang penyakitan. Aku mendapat malaria, disentri, semua penyakit dan setiap penyakit”. Menurut kepercayaan tradisional, anak sakit-sakitan harus diganti namanya. Karena itu Kusno nama kecilnya, diganti ayahnya menjadi Soekarno.
Ketika kelak tumbuh sebagai remaja, dan sudah mempunyai kesadaran berpenampilan, kemiskinan itu tampaknya tak mempengaruhi Bung Karno dalam bergaya.
Kiriman uang saku dari orangtuanya dan ekstra uang saku dari Pak Poegoeh kakak iparnya di Surabaya, dihematnya sen demi sen. Namun itu tak berarti dirinya tidak bisa tampil keren. Tampak dari foto-fotonya, sejak muda Bung Karno selalu berbusana apik dan menawan. Biar kalah nasi, yang penting tidak kalah aksi! Tampaknya sejak muda Bung Karno sudah punya bakat sebagai pencipta trend mode di jamannya.
Di dalam buku “Sukarno Penjambung Lidah Rakjat”, Bung Karno bercerita tentang perselisihannya dengan penghulu. Ketika itu akan dilangsungkan pernikahannya dengan Utari, putri HOS Tjokroaminoto. Itu adalah pernikahan pertama bagi Bung Karno. Penghulu memintanya untuk melepaskan dasinya. Soalnya dasi itu dianggap simbol budaya Kristen. Bung Karno tidak bisa mengerti larangan itu. Dia berusaha menjelaskan, dirinya sangat menyukai berpakaian pantas dan rapi. Tapi penghulu tidak mau menerima alasan itu. Karena Bung Karno tetap ngotot mengenakan dasi, penghulu mulai menggertak. Penghulu menolak menikahkan jika Bung Karno tidak melepaskan dasinya!
Bukannya ciut oleh gertakan tadi, Bung Karno malah semakin marah. Persetan! Rasanya dia lebih baik tidak menikah saja kalau soal berpenampilan pun, dirinya mesti diatur-atur. Bung Karno menulis, “Dalam hal ini biarpun Nabi sendiri sekalipun, takkan sanggup menyuruhku untuk menanggalkan dasi”. Bung Karno menjadi emosi oleh penghulu yang mencoba mengatur dan mengancamnya. Lalu dia menggeledek, “Persetan, tuan-tuan semua. Saya pemberontak, dan saya akan selalu memberontak, saya tidak mau didikte orang di hari perkawinan saya!”.
Sebagaimana umumnya lelaki, Bung Karno juga pernah berusaha menumbuhkan kumisnya. Mungkin bisa tampak lebih gagah dan ganteng. Tapi sayang usaha itu sia-sia. Kumisnya hanya tumbuh sebaris tipis saja. Sejak itu dia tidak pernah lagi mencoba-coba jadi “Pak Kumis”. Tetap bergaya klimis rapi.

Di sebuah majalah jadul, saya pernah membaca wawancara dengan Dewi Soekarno. Dewi bercerita tentang bagaimana Bung Karno tetap memperhatikan penampilannya, juga ketika usianya beranjak senja. Bung Karno sering memintanya menolong bukan saja mengecat rambutnya yang beruban, tapi juga alisnya! Sebelum Bung Karno berpidato, untuk menyamarkan pucat di wajahnya, tak jarang Dewi membubuhi sedikit rona merah dengan pupur membayang tipis di wajah suaminya itu.
Kesukaan Bung Karno akan gaya dan penampilan mematahkan pendapat orang tentang pria Jawa yang umumnya berpenampilan seadanya. Sudah banyak yang membahas bagaimana peran Bung Karno sebagai trend setter mode pria di Indonesia. Mulai dari idenya tentang pemakaian kopiah yang hingga kini dipakai pria Indonesia dan menjadi salah satu identitas bangsa. Juga gaya busananya yang banyak ditiru pria di jamannya. Misalnya stelan jas putih dan baju safari lengan pendek maupun lengan panjang.

Baju kepresidenannya yang bergaya militer membuatnya tampak gagah berdampingan dengan pemimpin dunia lainnya. Baju itu adalah hasil rancangannya sendiri. Karena itu Bung Karno pernah tersinggung dengan kritik Kepala Staf Angkatan Perang TB Simatupang (kala itu masih kolonel) yang menyarankan Bung Karno agar tidak memakai baju militer dengan segala atributnya itu.
Sejak menjadi pemimpin bangsa, Bung Karno tak pernah tampak mengenakan pakaian adat yang mewakili suku tertentu. Dia punya alasan khusus tentang ini. Bukan karena tidak mencintai tradisi. Justru sebaliknya dialah penganjur tradisi budaya, termasuk pakaian adat. Namun sebagai kepala negara, dia memposisikan dirinya harus netral berdiri di atas semua golongan demi persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itu dia mengorbankan identitas sukunya dengan sama sekali tidak pernah berpakaian daerah.
Walaupun semasa menjadi presiden tidak pernah berbusana daerah, namun Sukarno punya kepedulian terhadap pelestarian batik. Sukarno menghidupkan tradisi pameran batik di istana negara. Salah satu konsep Sukarno tentang batik khas Indonesia yaitu batik motif Terang Bulan. Motif batik ini kemudian dirintis dan diwujudkan oleh Ibu Sud atau Saridjah Niung Bintang Soedibjo.
Dulu Bung Karno sering meledek Ibu Sud yang berpinggul besar itu dengan julukan “bokong gede”, menunjukkan pertemanan mereka yang akrab. Karena keakraban itu, Ibu Sud paham bagaimana menerjemahkan batik Indonesia konsep Bung Karno. Selain dikenal sebagai pencipta lagu kanak-kanak, Ibu Sud (nenek disainer busana Carmanita) ini memang juga seorang pembatik. Motif batik Terang Bulan konsep Sukarno adalah batik yang mengkombinasikan motif batik kraton dan batik pesisir.

Batik Terang Bulan Konsep Bung Karno yang diwujudkan Ibu Sud
Orang sering menggeneralisir adat etnis dengan cara seseorang dalam berpenampilan. Pada Sukarno, gaya dan penampilannya lebih pada soal insting, selera, kesadaran dan pemahamannya tentang estetika. Bukan sekedar karena harus menjaga penampilan sebagai kepala negara . Karena jauh sebelum menjadi pemimpin bangsa pun, penampilannya selalu terjaga apik, sampai rela adu mulut dengan penghulu nikah.
Kecenderungannya untuk selalu tampil representatif nampaknya memang sudah bakat natural-nya. Sudah dimulai sejak remaja. Selalu tampak begitu flamboyan. Sukarno memang punya selera. Sebagaimana dikatakannya ketika membetulkan dasi Menhan Amerika, “Tuan punya bom atom, tapi kami punya seni yang tinggi!”. Kesenimanan Sukarno membuatnya memandang mode dan gaya juga adalah bagian dari seni.
Itu diakuinya sendiri ketika perasaannya remuk akibat dikurung di penjara Banceuy Bandung yang lebarnya 1,50 meter dan panjangnya seperti peti mayat. Dikatakannya, “….aku rasanya hendak mati. Pengalaman yang meremukkan. Aku adalah seorang yang biasa rapi dan pemilih. Aku adalah orang yang suka memuaskan perasaan. Aku menyukai pakaian bagus….”.
Ketika Bung Karno sekeluarga tiba di Jakarta 9 Juli 1942 dari pengasingannya di Sumatera, topik yang paling pertama ditanyakannya adalah “mencari tukang jahit”. Saat itu kapal laut “Van Riebeeck” yang ditumpanginya berlabuh di pelabuhan Pasar Ikan, di Penjaringan Jakarta Utara. Di masa lalu pelabuhan Pasar Ikan dikenal juga dengan nama Pelabuhan Sunda Kelapa.

Berita kembalinya Bung Karno di Jawa, setelah pembuangan di Sumatera
Orang pertama yang menjemputnya di pelabuhan itu adalah Anwar Tjokroaminoto, adik Utari, bekas adik iparnya. Melihat jas Anwar yang keren, Bung Karno lalu menyadari jas putih plus celana kedodoran yang dikenakannya sudah ketinggalan jaman. Betapa berbeda dengan stelan jas Anwar warna ivory yang dilihatnya jauh lebih modern.
“Jasmu bagus sekali potongannya”, puji Bung Karno. Anwar hidungnya kembang kempis dipuji Bung Karno. “Bikinan penjahit De Koning”, sahut Anwar berlagak. Anwar lalu buka rahasia bagaimana caranya ke penjahit itu, dengan harga miring. “Melalui pintu belakang”, bisik Anwar. Bung Karno segera tertarik ingin menjahit bajunya di penjahit yang tergolong penjahit terbaik dan mahal di Jakarta di kala itu. “Apa dia mau menjahit untukku?”, tanya Bung Karno pada Anwar. Percakapan selanjutnya antara keduanya bukan tentang strategi perjuangan, tapi kasak-kusuk tentang baju. Nah, ternyata omong-omong soal baju bagus bukan cuma monopoli perempuan saja.
Di kemudian hari, Bung Karno yang pesolek melengkapi gaya busananya dengan tongkat komando. Banyak orang percaya, tongkat komando itu adalah jimat saktinya. Tapi Bung Karno membantah. Tongkat komando itu semata-mata untuk menunjang gayanya. Dia menyebut dirinya “pelagak”. Dia berkata bahwa tongkatnya sama sekali tidak sakti, “tapi kalau diketok di jidat, ya bisa benjol”.

Bung Karno: Tongkat komando ini tidak sakti, tapi bisa bikin benjol!
Ide, inspirasi, karya, cita-cita memang tidak perlu selalu ditentukan oleh mahal dan mewahnya gaya hidup, gaya berbusana dan gaya berpenampilan. Dengan kepantasannya mempresentasikan diri, Bung Karno mampu memberi citra tersendiri bagi bangsanya di dunia internasional. Padahal kondisi Indonesia ketika itu masih begitu miskin. Dengan gayanya sebagai “pelagak”, dia mampu menyejajarkan bangsanya dengan para penista kemiskinan yang pongah itu.
Ya, apa salahnya jika gaya dan penampilan bisa membuat seseorang menjadi bergairah dan inspiratif dalam mewujudkan ide, karya dan cita-citanya?
Walaupun senang bergaya, Bung Karno tidak silau harta. Di akhir kekuasaannya, kala dipaksa meninggalkan istana oleh Suharto, Bung Karno ternyata tidak turut membawa serta kemeja-kemeja favoritnya “Arrow”, arloji Rolex dan benda berharga lainnya. Semua itu digeletakkannya begitu saja.

Kemeja Arrow di balik jas Bung Karno
Menurut kesaksian Sogol Djauhari Abdul Muchid (anggota Detasemen Kawal Pribadi/DKP), Bung Karno meninggalkan istana sebelum 16 Agustus 1967, hanya ber-kaos oblong cap cabe, celana piyama krem dan bersandal merk Bata yang sudah usang. Di pundaknya tersampir baju piyama-nya.
Tangan kanannya menggenggam sesuatu yang sangat berharga. Lebih berharga daripada kemeja Arrow, parfum Shalimar favoritnya, uang dollar dan emas batangan yang tak ikut dibawanya, dan hingga kini tak diketahui di mana semua itu. Hanya satu benda yang dibawanya ketika meninggalkan istana. Benda yang merupakan simbol dari 1001 kisah pengorbanannya untuk bangsanya. Itulah yang digenggamnya erat, yaitu bendera pusaka yang dibungkus gulungan kertas koran, hasil jahitan Fatmawati istrinya. Toh walau berkaos oblong seadanya, semua itu tidak membuat kewibawaannya serta merta sirna.
Wibawanya itu bahkan tetap hidup hingga kini, walaupun jauh sebelumnya dia sudah mengalami “pembunuhan” secara perlahan di pengasingannya di Wisma Yaso. Bung Karno seakan menyadari itu. Karena itu, menurut Sidarto Danusubroto ajudannya, Bung Karno menulis di bukunya kalimat filsuf Jerman Ferdinand Freiligrath, “ Man töten den Geist nicht”. Ya, tak ada yang bisa membunuh jiwa.
Gaya dan penampilan memang tidak kekal. Tapi melalui kekekalan jiwanya, gaya dan penampilan Bung Karno menjadi kenangan kekal yang tetap tergores dalam sejarah.

KERIS JALAK TILAM SARI PAJAJARAN

Keris : dapur jalak tilam sari
pamor : nunggak semi + untu walang tiban + wengkon isen
tangguh / perkiraan masa pembuatan: jaman kerajaan Pajajaran
Warangka : ladrang solo








 MAKNA KERIS TILAM SARI
 Maksud di sebalik falsafah empu terhadap dapur Tilam Sari adalah mengambil pengertian Tilam sebagai tempat pembaringan, tempat beristirahat dan daripada segi bahasa moden bermaksud tempat tinggal. Sari pula bermaksud harum, wangi, semerbak.
Pengertian Tilam Sari apabila di cantumkan adalah membawa makna bagi mendapatkan tempat berteduh yang harum semerbak baik di hadapan Tuhan Yang Maha Esa maupun sesama manusia. Konsep doa daripada empu yang diharapkan terhadap keris berdapur Tilam Sari adalah agar pemilik atau penghuni rumah yang merawat keris berdapur Tilam Sari akan selalu mendapatkan kemuliaan, kebahagiaan, kedamaian, nama yang harum, dihormati orang disekelilingnya dan selalu mendapatkan perlindungan keselamatan daripada Tuhan Yang Maha Esa.


TUNGGAK SEMI.
 Pamor ini terletak ditengah Sor-soran, bentuk seperti tampak digambar samping. Berkombinasi dengan pamor Wos Wutah. Tuahnya untuk mendapatkan rejeki walau bagaimanapun kecilnya. Tidak termasuk pamor pemilih.

Ada yang menamakan pamor Tepen. Bentuknya mirip bingkai (wengkon artinya bingkai). Tuahnya untuk perlindungan, ada yang untuk menghindari dari godaan, ada yang memperbesar rasa hemat dan ada yang untuk menghindari dari guna-guna. 

Arti harafiahnya “Gigi Belalang”, tuahnya menambah kewibawaan seseorang. Dituruti kata katanya dan pamor ini tergolong pemilih, hanya orang yang punya kedudukan cukup tinggi bisa cocok. Untuk guru dan pendidik biasanya juga cocok. 
BILA ALLAH BERKEHENDAK SEMUA BISA TERJADI
Salam budaya

KERIS JALAK TILAM SARI MAJAPAHIT

Keris dapur : Jalak tilam sari
Pamor : Rojo gundolo ( orang tahiyat) + wos wutah
tangguh /perkiraan pembuatan jaman kerajaan majapahit
Warangka Gayaman






Sejarah Keris Tilam Sari

Keris ini di anggarkan telah di buat pada abad ke 15 iaitu di zaman Kerajaan Majapahit Runtuh (akhir). Berdasarkan fakta sejarah, semasa Kerajaan Majapahit dengan rajanya bernama Brawijaya Pamungkas atau Bre Kertabumi (Brawijaya V), beliau telah pergi ke Gunung Lawu kemudian Moksa yang masih terdapatnya Kerajaan Majapahit akan tetapi bukan lagi sebagai kerajaan yang besar. Pusat Kerajaan Tanah Jawa ketika itu ada di Demak Bintoro.
Ketika itulah, adanya seorang empu yang telah mengabdi dirinya kepada Kerajaan Majapahit sehingga pemerintahan Raja Brawijaya yang ke VII.

Maksud di sebalik falsafah empu terhadap dapur Tilam Sari adalah mengambil pengertian Tilam sebagai tempat pembaringan, tempat beristirahat dan daripada segi bahasa moden bermaksud tempat tinggal. Sari pula bermaksud harum, wangi, semerbak.
Pengertian Tilam Sari apabila di cantumkan adalah membawa makna bagi mendapatkan tempat berteduh yang harum semerbak baik di hadapan Tuhan Yang Maha Esa maupun sesama manusia. Konsep doa daripada empu yang diharapkan terhadap keris berdapur Tilam Sari adalah agar pemilik atau penghuni rumah yang merawat keris berdapur Tilam Sari akan selalu mendapatkan kemuliaan, kebahagiaan, kedamaian, nama yang harum, dihormati orang disekelilingnya dan selalu mendapatkan perlindungan keselamatan daripada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagian orang menyebut Gundolorojo. Umumnya terletak ditengah sor-soran, namun adakalanya terletak agak ketengah bilah keris. Bentuknya mirip gambar mahluk yang menakutkan, kadang seperti perempuan kadang seperti laki-laki atau juga hewan. Rojogundolo yang bertuah biasanya yang dari pamor tiban dan bukan rekan.
Umumnya bersifat perlindungan terhadap pemiliknya, bisa digunakan menolak guna-guna, memindahkan mahluk halus, membersihkan rumah “angker” bahkan jika kerisnya istimewa bisa digunakan menyembuhkan orang yang kesurupan. Tergolong pamor tidak pemilih dan bisa juga terdapat di tombak atau pedang.

Pamor yang paling banyak dijumpai, bentuknya tidak teratur tetapi tetap indah dan umumnya tersebar dipermukaan bilah. Ada yang berpendapat pamor ini pamor gagal, saat si empu ingin membuat sesuatu pamor tetapi gagal maka jadilah Wos Wutah. Tetapi ini dibantah dan beberapa empu dan pamor ini memang sengaja dibuat serta termasuk pamor tiban. Pamor ini berkhasiat baik untuk ketentraman dan keselamatan pemiliknya, bisa digunakan untuk mencari rejeki, cukup wibawa dan disayang orang sekelilingnya, pamor ini tidak pemilih.   
SEGALANYA ATAS KEHENDAK ALLAH
Salam Budaya

KERIS JALAK SANGU TUMPENG

Keris dapur : Jalak sangu tumpeng
Pamor : jung isi dunyo & pendaringan kebak ( meteorit )
Tangguh / perkiraan masa pembuatan kerajaan Mataram  Sultan Agung
Warangka : Ladrang
asal usul pusaka pemberian kawan yg merasa tidak bisa "merawatnya", 






FILOSOFI KERIS


Dalam pakem perkerisan, sangat banyak dapur jalak yang kita kenal, antara lain : Jalak, Jalak Ngore, Jalak Dinding, Jalak Sinom, dan Jalak Sangu Tumpeng. Dapur Jalak hampir semuanya merupakan dapur yang populer. Bahkan kerap ditemui dapur Jalak Sangu Tumpeng disimpan sebagai pusaka keluarga. Keris dapur ini kadang diberikan orang tua kepada anaknya ketika hendak pergi merantau mencari nafkah (bekerja).

Dapur Keris Jalak merupakan dapur keris yang telah ada sejak jaman kuno. Bagi sebagian penggemar keris, dapur Jalak Sangu Tumpeng dipercaya sebagai pusaka yang mempunyai tuah ke-rejeki-an atau memudahkan mencari nafkah. Bagi sebagian orang hal semacam ini dianggap kepercayaan yang mistik dan sirik. Meski dalam kenyataannya, nuansa cultural leluhur (khususnya orang jawa) akan sulit ditinggalkan sampai kapan pun dalam memandang suatu pusaka. Karena itu tuduhan syirik jelas ditolak mentah-mentah, sebab budaya leluhur mengajarkan demikian dan sama sekali tidak memper-tuhan-kan sebilah keris. Meski demikian benturan anatar budaya dan agama masih saja sering terjadi.

Tidak ada salahnya jika kita sedikit memperluas cakrawala pemikiran. Kita mencoba untuk mencari, mempelajari dan memahami segala sesuatu dibalik nilai-nilai budaya, bukan sebaliknya justru meninggalkan dan membuang suatu karya budaya karena takut dituduh syirik atau dianggap kuno ketinggalan jaman.

Minimnya budaya baca-tulis bangsa ini di jaman dahulu menyebabkan banyak pengajaran hidup dilakukan secara lisan (tutur). Dan agar lebih mudah mengingatnya, banyak hal “dicatat” dalam bentuk simbol-simbol dari suatu produk budaya, misalkan dalam bentuk tarian, gambar, ukiran, cerita, upacara-upacara tradisi, dan tak terkecuali keris.

Tidak ada ukuran / standar bagaimana suatu dapur atau pamor keris harus diinterpretasikan maknanya. Makna yang direfleksikan pada sebuah dapur keris akan sangat tergantung pada keleluasaan cakrawala masing-masing individu. Ajaran filsafat jawa yang dibungkus dalam suatu karya seni keris, tentunya mempunyai suatu perlambang tentang ajaran mengenai hidup dan kehidupan. Dalam hal ini budaya jawa membuka lebar-lebar setiap interpretasi, dengan tetap berpijak pula kepada ajaran budi luhur para leluhur.

Penamaan dapur keris tidak lepas dari maksud dan tujuan yang hendak disampaikan dalam dapur keris itu sendiri. Hal ini tidak lepas dari makna setiap ricikan yang ada dalam sebilah keris. Mungkin dengan latar belakang demikianlah, seorang empu menciptakan dapur dan memberinya nama. Empu, dalam memberi nama dapur keris tidaklah sembarangan. Sebuah nama dapat merupakan doa, harapan, simbol dari suatu ajaran atau pun pandangan hidup. 
Para empu pinilih tersebut tidak hanya ahli dalam hal teknis olah tempa dan laras(“ilmu”), namun juga memiliki keleluasaan pengetahuan olah batin (“ngelmu”) yang dimanifestasikan dalam karyanya, baik secara estetika teknis fisik maupun aspek spiritual. Sehingga, dalam perkembangannya keris bukan hanya sebagai senjata, namun juga sebagai karya seni tempa logam yang memuat nilai-nilai budaya luhur.

Seseorang yang memberikan keris kepada orang lain atau keturunananya, seolah memberikan pesan dan harapan, agar penerima dapat menjalankan nilai-nilai yang terkandung di dalam dapur keris tersebut. Sedangkan empu keris seolah memberikan dorongan moril dan doa agar siapa pun yang menyimpan hasil karyanya, diberikan petunjuk oleh Tuhan, sesuai dengan nilai-nilai simbolik dalam keris karyanya tersebut.
Nama Jalak Sangu Tumpeng dapat diartikan Burung Jalak Berbekal Tumpeng. Tumpeng adalah nasi (dibentuk seperti gunung) dengan segala lauk pauknya dalam sebuah nampan. Hal tersebut nampaknya aneh dan tak masuk akal. Bagaimana burung jalak yang kecil dapat membawa bekal tumpeng yang sedemikian besar dan berat? Supaya tidak kekurangan makan? Padahal burung jalak tidak doyan nasi tumpeng. Jika keliru menafsirkan, bisa jadi Jalak Sangu Tumpeng diartikan sebagai symbol keserakahan dan orang yang memaksakan diri.
Philosofi dalam Burung Jalak dan Nasi Tumpeng
Jalak merupakan species burung yang di jawa terdapat beberapa jenis, anatar lain: Jalak Kebo (hitam), Jalak Pita (putih), dan alak Suren (hitam putih). Dari beberapa jenis ini, yang paling menarik tingkah lakunya adalah jalak suren (Sturnus Contra Jalla). Di Jawa, sejak dahulu burung ini dikenal sebagai burung peliharaan yang bisa membantu pemiliknya menjaga rumah. Burung tersebut mempunyai naluri yang peka (waspada) terhadap kedatangan tamu asing baik siang maupun malam. Dia akan berbunyi keras dan serak (bukan berkicau) jika ada orang datang dan belum dikenal seolah mengingatkan (ng-eling-ake) pemilik rumah. Selain itu, Jalak merupakan burung yang dalam mencari makan tidak merugikan orang lain. Sampai di sekitar tahun 70-an masih sering kita lihat burung ini di atas punggung kerbau di sawah. Relasi simbiosis mutualisme dengan kerbau. Jalak memperoleh makanan dan kerbau jadi sehat. Di sisi lain, jalak juga dikenal sebagai burung yang setia kepada pasangannya.
Seniman Surakarta, Ki Surono Ronowibakso (Suryanto Sastroatmojo, 2006:110) memberikan pandangannya tentang burung sebagai berikut :

Kukila tumraping tiyang jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaming penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Candra pasemonanipun: pindha keblaking swiwi kukila, ingkang tansah ngawe-ngawe ngupaya boga, kinarya anyekapi ing bab kabetahanipun. Dene kukila ingkang sampun pikanthuk ing bab kabetahanipun, kukila kala wau lajeng wangsul dhumateng tuk sumberipun, asalusulipun, inggih punika wangsul dhateng susuhipun, ambekta kabetahaning gesangipun.

(terj bebas: bagi orang Jawa, burung merupakan symbol pelipur duka, memberikan rasa senang di hati,menghilangkan rasa dongkol kejengkelan di hati. Sedangkan gambaran sosoknya, dimana kepakan sayapnya melambai-lambai merupakan usaha dalam mencari pangan (nafkah), untuk memenuhi kebutuhan. Urung yang telah mendapatkan pangan, kemudian pulang kembali ke sarangnya (rumah dan keluarganya).
Tumpeng merupakan sajian nasi kerucut dengan aneka lauk pauk yang ditempatkan dalam tampah (nampan besar, bulat, dari anyaman bambu). Tumpeng merupakan tradisi sajian yang digunakan dalam upacara, baik yang sifatnya kesedihan maupun gembira.
Tumpeng dalam ritual Jawa jenisnya ada bermacam-macam, antara lain : tumpeng sangga langit, Arga Dumilah, Tumpeng Megono dan Tumpeng Robyong. Tumpeng sarat dengan symbol mengenai ajaran makna hidup. Tumpeng robyong disering dipakai sebagai sarana upacara Slametan (Tasyakuran). Tumpeng Robyong merupakan symbol keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan. Tumpeng yang menyerupai Gunung menggambarkan kemakmuran sejati. Air yang mengalir dari gunung akan menghidupitumbuh-tumbuhan. Tumbuhan yang dibentuk ribyong disebut semi atau semen, yang berarti hidup dan tumbuh berkembang. Pada jaman dahulu, tumpeng selalu disajikan dari nasi putih. Nasi putih dan lauk-pauk dalam tumpeng juga mempunyai arti simbolik, yaitu:
Nasi putih: berbentuk gunungan atau kerucut yang melambangkan tangan merapatmenyembah kepada Tuhan. Juga, nasi putih melambangkan segala sesuatu yang kita makan, menjadi darah dan daging haruslah dipilih dari sumber yang bersih atau halal. Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”.
Ayam: ayam jago (jantan) yang dimasak utuh ingkung dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan symbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa). Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk (yang dilambangkan oleh, red) ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.
Ikan Lele: dahulu lauk ikan yang digunakan adalah ikan lele bukan banding atau gurami atau lainnya. Ikan lele tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. Hal tersebut merupakan symbol ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun.
Ikan Teri / Gereh Pethek: Ikan teri/gereh pethek dapat digoreng dengan tepung atau tanpa tepung. Ikan Teri dan Ikan Pethek hidup di laut dan selalu bergerombol yang menyimbolkan kebersamaan dan kerukunan.
Telur: telur direbus pindang, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong – sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan. Piwulang jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan,dan diselesaikan dengan tuntas. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.
Sayuran dan urab-uraban: Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap. Sayuran-sayuran tersebut juga mengandung symbol-simbol antara lain: kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung, tercapai. Bayam (bayem) berarti ayem tentrem,taoge/cambah yang berarti tumbuh, kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/innovative, brambang(bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya, cabe merah diujung tumpeng merupakan symbol dilah/api yang meberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya. Bumbu urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga.
Pada jaman dahulu, sesepuh yang memimpin doa selamatan biasanya akan menguraikan terlebih dahulu makna yang terkandung dalam sajian tumpeng. Dengan demikian para hadirin yang datang tahu akan makna tumpeng dan memperoleh wedaran yang berupa ajaran hidup serta nasehat. Dalam selamatan, nasi tumpeng kemudian dipotong dan diserahkan untuk orang tua atau yang “dituakan” sebagai penghormatan. Setelah itu, nasi tumpeng disantap bersama-sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan.

Ada sesanti jawi yang tidak asing bagi kita yaitu: mangan ora mangan waton kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul). Hal ini tidak berarti meski serba kekuarang yang penting tetap berkumpul dengan sanak saudara. Pengertian sesanti tersebut yang seharusnya adalah mengutamakan semangat kebersamaan dalam rumah tangga, perlindungan orang tua terhadap anak-anaknya, dan kecintaan kepada keluarga. Di mana pun orang barada, meski harus merantau, harus lah tetap mengingat kepada keluarganya dan menjaga tali silaturahmi dengan sanak saudaranya.

Ricikan pada Keris Dapur Jalak Sangu Tumpeng
Jalak Sangu Tumpeng adalah keris lurus yang mempunyai makna selalu menempuh “jalan lurus” menuju keutamaan hidup. Jalan lurus yang ditempuh yaitu dengan menjalani perbuatan yang baik (Dadya laku utama), yang antara lain: tidak sombong, dan tidak mencela orang lain serta introspeksi terhadap diri sendiri. Apalagi orang yang dianggap cerdik pandai atau berkeuasa, perlu dihindari menjadi Prawata Bramantara yaitu orang yang tutur katanya membuat gusar oang lain atau membuat suasana menjadi semakin keruh. Kata-katanya tidak menentramkan, ibarat gunung yang tampaknya indah namun menghasilkan hawa panas yang berbahaya. Lebih dari itu, “laku utama” juga meliputi tindakan selalu menjaga ketakwaan kepada Tuhandan hubungan kepada keluarga, masyarakat dan lingkungannya (eling lan waspada).
Gandik Polos, merupakan symbol kekuatan, ketabahan hati, ketekunan dan rajin bekerja. Dalam budaya Jawa ada sesanti yang mengatakan : sapa sing temen bakal tinemu, sapa sing tatag lan teteg bakal tutug (siapa yang tekun akan menemukan jalan, siapa yang ulet dan tabah akan tercapai cita-citanya)
Tikel Alis, merupakan symbol baik-buruk dalam diri manusia, yang keduanya harus selalu dikendalikan. Pengendalian dua sifat tersebut akan terpancar pada watak seseorang.
Sogokan angkap (dua) dan Ada-ada, merupakan symbol dorongan/motivasi untuk selalu mempunyai ide/gagasan/inovasi kreatif untuk maju. Motivasi yang murni harus mulai dari niat lahir dan batin.
Tingil merupakan symbol bekal pengetahuan dan ketrampilan yang pinunjul. Dalam berkarya tentunya seseorang harus berbekal pengetahuan dan ketrampilan yang memadai.
Sraweyan merupakan symbol keluwesan. Dalam lehidupan hendaknya menjaga keselarasan terhadap sesame, masyarakat dan lingkungan, dan dapat beradaptasi dengan kebiasaan setempat dan menghargai pendapat serta sikap orang lain.
Pijetan/blumbangan, merupakan symbol keikhlasan hati dan kesabaran. Hidup dan bekerja harus dilandasi dengan hati yangsenang, mencintai akan pekerjaannta dan ikhtiar serta tawakal. Tidak ada yang disebut takdir sebelum diawali dengan ikhtiar.
Jalak Sangu Tumpeng Merupakan Ajaran Hidup Dalam Mencari Nafkah

Dapur Jalak Sangu Tumpeng secara keseluruhan sebagaimana ditunjukan dalam simbolisasi Jalak, Tumpeng, bentuk keris lurus dan ricikan bilah merupakan ajaran hidup dalam mencari nafkah. Jalak merupakan symbol atau gambaran seseorang yang berkewajiban mencari nafkah – dan tentunya untuk keperluan tersebut dia perlu mempersiapkan diri baik mental maupun spiritual. Sesorang dalam mencari nafkah dan menjalani hidup diharapkan lebih mengutamakan perbuatan yang baik (dadya laku utama) selalu menjaga ketakwaan kepada Tuhan dan hubungan dengan keluarga, masyarakat serta lingungannya (eling lan waspada). Dalam mencari nafkah hendaknya berlaku jujur dan tidak merugikan orang lain, Mencari nafkah memang tidak mudah, namun jika diberi kemudahan hendaknya selalu juga waspada. Sebab uang sebanyak apapun jika tidak halal sumbernya jangan diambil. Lebih baik uang sedikit namun halal dan sah. Sebagaimana diajarkan dalam tembang dandanggula serat sana sunu (Yasadipura II):
“..yang suksma, angupaya sandang pangan teka gampil, yen gampang den waspada. Sangkaning arta yen tanprayogi, haywa arsa sanajan akathah, yen during sah hywa pinet, sathitik yen panuju, den pakolih amburu kasil, liring pakolih ingkang, sah tentrem ing kukum….”
Hal-hal yang tersirat dalam dapur Jalak Sangu Tumpeng merupakan pandangan dan pegangan hidup untuk mencapai sukses dalam bekerja dan berusaha. Sehingga, nilai-nilai yang terkandung dalam dapur ini, menjadikannya sebagai symbol pusaka dalam mencari nafkah. Sesorang yang menyimpan keris dapur ini, seolah menyimpan nilai-nilai ajaran yang dapat digunakan sebagai pandangan hidup.

Bentuknya mirip Putri Kinurung. Bedanya bulatan-bulatan kecil yang terdapat pada “kurungan” bulatan relatif lebih besar. Ada juga yang bentuknya sepintas mirip pamor Bendo Segodo. Tuahnya untuk “menumpuk” kekayaan dan tidak pemilih
Pamor pedaringan kebak berarti lumbung padi yang penuh dan diharapkan pemilik pusaka ini nantinya akan berkelebihan rezeki atas Sang Pencipta 
SEGALANYA ATAS KEHENDAK ALLAH
Salam Budaya

KERIS BUTO IJO

Dhapur Buto Ijo / Luk 9
Pamor ngulit semongko, bertebar meteorit
Wilah ngelimpa
Luk nya kemba / samar, tidak rengkol
Pasikutan wingit
Tangguh estimasi Tuban








 Keris Buto Ijo fungsi utama untuk menjaga tempat usaha ,rumah dll dari perbuatan saingan Bisnis yang menginginkan kehancuran usaha kita.
 PAMOR NGULIT SEMONGKO
 Pamor Ngulit Semongko : Sepintas seperti kulit semangka, tuahnya seperti Sumsum Buron, memudahkan mencari jalan rejeki dan mudah bergaul pada siapa saja dan dari golongan manapun. Pamor ini tidak memilih dan cocok bagi siapa saja.
Atas kehendak Allah lah semua bisa terjadi
Salam budaya

TOMBAK BANYAK ANGREM

Tombak : Banyak angrem
Pamor : Ngulit Semongko & Batu lapak
Tangguh / perkiraan masa pembuatan : Kerajaan Pajajaran









BANYAK ANGREM, 
salah satu dapur tombak
seperti angsa mengeram, tidak symetris, lebar
bagian bawah, permukaan datar tetapi memakai
ada-ada tipis ditengah bilah, ricikan lain tidak
ada. Dapur ini banyak terdapat pada tombak
lama dan dibuat bukan untuk berperang tetapi
sebagai pusaka.
 Tombak Pusaka Banyak Angrem, Adalah tombak yang punya nilai seni dan mistis yang tinggi. Bentuknya yang berbeda dengan mata tombak pada umumnya, yaitu menyerupai bentuk banyak/angsa oleh karenanya disebut banyak angrem. Tombak ini banyak dicara penggemar Pusaka Tosan aji karena Wasilah/Yoni/Tuah yang terkandung didalamnya, Yaitu dipercaya sebaga Pesugihan, Mendatangkan banyak rejeki, Melancarkan usaha, Mendatangkan keberkahan yang melimpah, Membawa rasa damai dan Ketentraman Rumah tangga
PAMOR NGULIT SEMONGKO

Sepintas seperti kulit semangka, tuahnya seperti Sumsum Buron, memudahkan mencari jalan rejeki dan mudah bergaul pada siapa saja dan dari golongan manapun. Pamor ini tidak memilih dan cocok bagi siapa saja.
PAMOR  BATU LAPAK
Tentang Pamor Batu Lapak
Bentuknya menyerupai pusaran yang melingkar-lingkar, biasanya lebih dari lima. Letaknya di sor-soran tengah. Tuahnya “Singkir Baya”. Baik untuk anggota Militer ataupun orang biasa. Berkhasiat bagi yang mempelajari kekebalan, bela diri. Pamor tidak memilih.

SEGALANYA ATAS KEHENDAK ALLAH .
Salam budaya ....emas joko grc

BESI DI ALQURAN

BESI DI ALQURAN 

 

 


Memiliki keris akan dapat menjadi musyrik dan syirik jika kita memandang keris secara salah, mungkin kita percaya akan kehebatan keris yang mampu membuat kaya, mampu membuat aman, mampu membuat bahagia dan melupakan kekuasaan Allah SWT.

Cara pandang yang salah seperti diatas harus kita perbaiki sejalan dengan Perintah Allah dalam surah AL. Hadid ayat. 25

Al Hadid secara harfiah aritnya besi, dan surat ini dinamakan dengan Al Hadid karena dalam ayat 25 dari 29 ayat di surat Al Hadid ini, Allah menyebutkan secara eksplisit tentang besi ini, “Kami turunkan besi, dan pada besi itu ada kekuatan yang sangat dahsyat dan banyak sekali manfaat-manfaatnya bagi manusia”, sayangnya walaupun yang pertama kali diingatkan adalah orang yang beriman, ternyata dikemudian hari yang lebih pandai menggunakan dan memanfaatkan besi itu yaitu orang-orang non muslim, setelah mereka berinteraksi dengan masyarakat Islam pada abad pertengahan, dan jadilah ayat ini pun sebagai sebuah teguran bagaimana ilmu kauli perlu diperdalam untuk meralisasikan pemanfaatan besi bagi kehidupan manusia.

Seorang ilmuwan terkenal yang menjadi pembicara dalam seminar ‘Mukjizat Ilmiah al-Qur’an al-Karim’, DR Strogh yang juga begitu tersohor di kalangan Badan Antariksa Amerika, NASA mengatakan, “Kami telah melakukan berbagai penelitian terhadap sejumlah barang tambang bumi dan sejumlah penelitian laboratorium. Namun hanya satu jenis barang tambang yang sangat membingungkan para ilmuan, yaitu besi. Dari sisi kapasitasnya, besi memiliki bentuk (struktur) yang unik. Agar elektron-elektron dan nitron-nitron dapat menyatu dalam unsur besi maka ia butuh energi yang luar biasa mencapai 4 kali lebih besar dari total energi yang ada di planet matahari kita.”
Ini berarti, tidak mungkin besi itu telah terbentuk saat berada di bumi. Pasti ada unsur aneh yang turun ke bumi dimana ia belum terbentuk di sana. Allah SWT berfirman, “Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS.al-Hadid:25)
http://anakshalih.wordpress.com/2007/05/11/rahasia-besi-dalam-al-quran/
(SUMBER: situs berbahasa Arab tentang mukjizat ilmiah al-Qur’an dan as-Sunnah, seperti yang dinukilnya dari buku al-Adillah al-Maaddiyyah ‘Ala Wujuudillaah karya Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi) , alsofwah.or.id
Kesimpulannya :

Allah SWT. Sudah menciptakan besi dengan berbagai kekuatannya, kalau Empu jaman dahulu dapat mengetahui fungsi dan kegunaan dari masing-masing besi berarti sekarang kita tinggal memilih besi-besi yang sesuai dengan diri kita yang berada pada sebuah keris.

Dibawah ini ada beberapa contoh jenis besi menurut empu kuno, Sbb :
• Besi Karangkijang = Energinya dingin dan sabar
• Besi pulosani =manfaatnya untuk kewibawaan, dapat kaya, dan keriernya baik.
• Besi mangangkang (Wadon / betina) =manfaatnya kalau dibawa pergi mudah dapat rejeki.
• Besi Walulin.=manfaatnya yang punya selalu sehat kuat, dalam bidang pertanian subur tanamannya, dihormati orang banyak, dan dapat berbuat tegas dalam menyelesaikan perkara.
• Besi Katub.= manfaatnya cocok untuk pedagang, apa yang dikehendaki dapat tercapai, dan juga untuk keselamatan.
• Besi Kamboja.=manfaatnya untuk kewibawaan, disegani orang banyak, kariernya baik. Tetapi tidak boleh berbuat jahat, kalau melanggar mendapat celaka.
• Besi Ambal=manfaatnya dapat menarik keris lain.
• Besi Winduaji=manfaatnya untuk keselamatan.
• Besi Tumpang.=manfaatnya untuk kewibawaan dan daya pesona.
• Besi Werani =manfaatnya untuk mencapai pangkat tinggi, kaya raya, dan Sukses dalam kepemerintahan.
• Besi Walangi. =manfaatnya dapat lancar untuk mencari sandang pangan, juga untuk penghasihan, dan jangan untuk usaha simpan pinjam.
• Besi Terate.=manfaatnya dicintai oleh wanita, dan keselamatan.

ada juga besi2 yang mempunyai manfaat berlawanan dengan besi diatas.

Seperti halnya jamu yang dibuat oleh seorang ahli jamu, yang berasal dari berbagai macam tanaman yang memiliki fungsi sendiri-sendiri kemudian disatukan untuk sebuah pengobatan suatu penyakit. Keris juga demikian diramu dari berbagai jenis besi yang memiliki fungsi-fungsi tersendiri kemudian disatukan untuk sebuah tujuan bagi pemesannya.

Kalau jamu yang kita minum dapat memberikan efek kepada hidup dan kesehatan kita, keris juga demikian …. Namun perlu waspada dan jangan keliru dengan keris yang tidak diramu dari besi-besi pilihan.
Kita kembalikan kepada Allah,karena Dialah Yang Maha Kuasa

Semoga bermanfaat.