PATREM BROJOL
pamor : Singkir
Tangguh : Estimasi Tuban
Rangka gayaman kayu sono keling
Sono keling
Philosofi Nama Dapur BROJOLDisadur dari Majalah PAMOR Edisi 08 – Tulisan Wawan Wilwatikta
Brojol Sebagai Simbol Kelahiran
Dalam masyarakat yang memandang keris dari sisi esoteri, seringkali dapur ini dikaitkan dengan tuahnya
“memperlancar kelahiran jabang bayi".
Sehingga mungkin banyak orang yang menganggap keris ini hanya cocok
untuk mereka yang berprofesi sebagai dukun bayi. Benar dan tidaknya
mengenai tuah tersebut, hanya Tuhan yang mengetahui. Namun di sisi lain,
dijumpai bahwa banyak masyarakat yang memperoleh pusaka warisan
keluarga berdapur Brojol, meskipun mereka bukan dari keturunan dukun
bayi.
Dapur Brojol, sebagaimana dapur keris lainnya merupakan suatu
karya yang mempunvai muatan spiritual berupa ajaran-ajaran hidup. Secara
terminology, brojol memang identik dan terkait dengan masalahi
kelahiran. Brojol merupakan ungkapan peristiwa kelahiran jabang bayi ke
dunia. Keris berdapur brojol, sebagai simbol kelahiran bayi sebenarnya
bukan pada proses kelahiran itu sendiri (
mbrojol-lahir) yang akan disampaikan, akan tetapi ditujukan pada kesucian jabang bayi yang baru dilahirkan, yaitu fitrah manusia.
Ajaran-ajaran Jawa disampaikan penuh dengan pengetahuan esoterik vang merangsang angan-angann dan perenungan. (
Niels Mulder, 2001:129).
Penafsiran yang dilakukan sangat tergantung wawasan dan pengalaman
masing-masing pribadii yang sangat subjektif. Dalam budayal suatu ajaran
yang dianggap penting jika disampaikan tanpa simbolisasi tentu menjadi
tidak menarik dan juga kurang menyenangkan, karena disampaikan secara
biasa-biasa saja (polos) dan tegas. Sebaliknya semakin tersembunyi
(simbolik) dan semakin rumit maka akan semakin menarik dan makin
mengembangkan pemikiran.
Fitrah Manusia
Fitrah
manusia merupakan potensi dasar yang ada pada manusia untuk percaya
adanya Tuhan dan selalu condong kepada kebenaran. Fitrah ini diciptakan
dan bersumber dari Tuhan. Oleh karenanya, fitrah manusia mengarah kepada
tujuan yang satu, kebenaran dan kesucian jiwa yang menjadikan manusia
selalu kembali dekat kepada Penciptanya.
Pada hakekatnya, dalam diri
manusia ada fitrah untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhkan diri
dari perbuatan jahat. Nurani manusia selalu merindukan kedamaian dan
ketenangan. Jauh di dalam lubuk hati manusia, pada dasarnya selalu ada
kerinduan untuk terus menerus mengikuti jalan agama yang benar. Inilah
fitrah manusia yang sesungguhnya, fitrah yang diajarkan agama.
Fitrah
manusia itu pada dasarnya memiliki kecondongan membutuhkan adanya Tuhan
Sang Pencipta. Dengan kecenderungan fitrah inilah manusia -
bagaimanapun ingkarnya dia - ketika ia dalam keadaan tak berdaya, maka
tetap akan mengakui keberadaan dan kekuasaan Tuhan. Inilah hakikat
fitrah manusia.
Apabila mereka taat dan patuh pada perintah Tuhan,
mereka akan selalu dekat dengan-Nya. Apabila ia dekat dengan Tuhannya,
ia akan selalu merasakan kehadiran Tuhan setiap saat. la akan merasa
bahwa setiap perilakunya, gerak geriknya berada dalam pengawasan Tuhan.
Jika fitrah manusia telah kembali dan terjaga, timbullah sifat Ihsan
dalam dirinya; serasa ia berada dalam perhatian Tuhan, sehingga
menjadikannya tertib dan berhati-hati dalam setiap sikap dan perbuatan.
Prinsip kebaikan ini diakui oleh seluruh umat manusia, sedangkan
perilaku yang tidak baik akan senantiasa mengantarkan manusia menuju
kehinaan dan kesengsaraan.
Ironisnya, banyak di antara kita yang
melupakan fitrah insaniyah (kemanusiaan) kita. Sebagian besar kita
justru dipengaruhi, bahkan dikuasai oleh nafsu. Kita sering menjadikan
nafsu sebagai illah (Tuhan) dalam kehidupan ini. Padahal dalam ajaran
agama Tuhan secara tegas mengecam para budak 'nafsu'. tidak lain seperti
halnya binatang yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Betapa nista
dan hinanya sebutan padanan yang diberikan Tuhan kepada para pemuja
nafsu. Mereka diibaratkan seperti binatang, bahkan jauh lebih hina dari
binatang. Inilah saat ketika manusia tergelincir berbuat kejahatan yang
menghinakan dirinya serta menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan
agamanya. Manusia diciptakan sebagai mahluk paling sempurna, karena
dikaruniai akal. Akal akan menuntun manusia untuk menentukan derajatnya,
apakah di bawah binatang atau bahkan di atas malaikat.
Dalam pandangan jawa ada dua macam nafsu yang sangat menghalangi nilai kemanusiaan, yaitu:
hawa nepsu (nafsu-nafsu) dan
Pamrih ( Egoisme). Tak perlu disebutkan disini bermacam nafsu, namun secara umum ada idiom vang di sebut
Ma Lima, yaitu:
Madat (nyandu obat terlarang),
Madon (main perempuan. selingkuh, seks bebas),
Minum (Mabuk),
Maling (mencuri, menipu, korupsi),
Main (judi).
Hawa
Nepsu yang tidak baik, merupakan perasaan dan tindakan kasar yang
melemahkan control diri manusia sehingga dapat melemahkan kekuatan
batin. Orang yang dikuasai nafsu menunjukkan bahwa akal budi belum
menduduki pengendalian iiwanya. Manusia semacam itu tidak lagi
mengembangkan segi-segi halusnya (perasaan) dan kerbanyakan akan
menimbulkan konflik dan pertentangan, baik dalam keluarga maupun dalam
dalam lingkungannya dan masyarakat.
Halangan yang kedua yaitu
Pamrih (egoisme).
Bertindak oleh karena pamrih berarti hanya mementingkan kepentingannya
sendiri tanpa mengindahkan kepentingan orang lain bahkan seringkali
merugikan orang lain. Pamrih merupakan sikap yang memperlemah manusia
dari dalam. Pamrih terutama terkait dengan tiga nafsu, yaitu :
Nepsu menange dewe (menganggap dirinya paling berkuasa),
Nepsu benere dewe (menganggap dirinya yang paling benar), dan
Nepsu butuhe dewe (hanya memperhatikan kebutuhan diri sendiri).
Dua
macam nafsu tersebut menjadi halangan manusia mencapai Fitrah yang
telah diberikan oleh Tuhan. Banyak keinginan manusia diluar
kebutuhannya. Manusia yang telah dikuasai oleh nafus selalu berusaha
untuk memenuhi segala keingannnya tanpa batas, meskipun ditempuh dengan
cara-cara yang merendahkan derajat/martabatnya (suap, korupsi, menipu
orang lain, mencuri dan sebagainya).
Hasil tersebut dapat memenuhi
keinginan manusia untuk memperoleh uang dan harta yang melimpah, rumah
mewah, mobil berkilap, sandangan serba bergengsi, gaya hidup
hedonisme/konsumtif dan sebagainya. Meskipun hal tersebut dapat
diperoleh, akan tetapi dari lubuk hari yang paling dalam, ada perasaan
tidak tenteram, merasa berdosa, itulah fitrah yang diberikan Tuhan pada
manusia.
Bagi manusia yang masih sadar akan eksistensi
kemanusiaannya, tentu ia tidak mau merendahkan derajatnya, ia bahkan
akan selalu berusaha untuk mempertahankan fitrah kemanusiaannya. Bahkan,
ia akan selalu berusaha meningkatkan derajat serta kualitas
kemanusiaannya. Tetapi bagi mereka yang telah dibutakan mata hatinya
oleh dekapan nafsu, la akan terlena dan terbuai, tidak mempedulikan lagi
fitrah kemanusiaannya yang suci. la akan terlelap dalam bisikan nafsu,
sampai akhirnya maut dating menjemputnya.
Untuk mengendalikan
nafsu-nafsu dapat dilakukan dengan cara laku tapa dengan sedikit
mengurangi makan, tidur, menguasai diri dibidang seksual dan lain
sebagainva. Ajaran Jawa mengatakan "
Cegah Dhahar lan Guling", sebagaimana dalam Serat Wulangreh tembang Durma:
"Dipun
sami ambanting sariranira, cegah dhahar lan guling, darapon suda, nepsu
kang ngambra-ambra, rerema ing tyasireki, dadi sabarang karsanira
lestari”(artinva: Lakukanlah prihatin, janganlali
terlalu banvak makan dan terlalu banyak tidur, agar nafsu yang
menyala-nvala dapat berkurang dan hati menjadi tenteram. Akhirnya segala
sesuatu yang hendak dicapai akan terlaksana).
Sesuai dengan hal
tersebut, bagi orang Jawa laku tapa bukanlah meniadakan sama sekali
dorongan biologis akan tetapi sekedar mengaturnya. Hal tersebut tentu
dapat dicapai dengan membiasakan diri atau latihan dari sedikit. Taat
terhadap perintah Tuhan dan selalu menjalankan apa vang telah diajarkan
dalam agama juga merupakan suatu laku tapa. Sehingga dengan laku tapa
demikian, diharapkan akan mendekatkan diri kepada Tuhannya dan
diharapkan manusia selalu pada fitrahnya.
Pijetan menunjukkan kelapangan hati, Gandik polos menunjukkan ketabahan
Dapur
Brojol mempunvai ricikan Pijetan yang merupakan symbol dari kelapangan
hati. Gandik polos merupakan symbol ketabahan dalam menjalani hidup.
Kelapangan hati terhadap sesuatu yang diperoleh, khususnya terhadap
keadaan yang tidak menyenangkan hati. Fitrah manusia itu pada dasarnya
memiliki kecondongan percaya pada kekuasaan dan takdir Tuhan. Takdir
bagi orang Jawa disebut dengan istilah
"pepesthen".
Pepesthen mempunyai arti segala sesuatu vang menyangkut hidup manusia
tidak dapat dilepaskan dari takdir Tuhan. Ada ajaran Jawa yang
mengatakan
"Ora ana kasekten sing madhani pepesthen, awit pepesthen iku wis ora ana sing bias murungake”.
Artinya tiada kesaktian yang mempunyai kepastian sebagimana yang
dimiliki Tuhan, karenanya tidak ada yang dapat menggagalkan kepastian
dari Tuhan. Oleh karena itu, dalam paham ajaran Jawa selalu beranggapan
bahwa
abang birune urip (merah birunya hidup) tergantung dari takdir Tuhan. Peristiwa kehidupan di dunia yang menyangkut
begja cilaka, bungah susah, sugih mlarat
('keselamatan-bencana, sengsara-kesenangan, kekayaan-kemiskinan) dan
sebagainya sudah merupakan pepesthen. Atas dasar itu, orang Jawa
menyikapi pandangan hidup dengan
mung saderma nglakoni (sekedar menjalankan) apa yang telah ditentukan oleh Tuhan.
Dapat
dikatakan bahwa ajaran Jawa percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi
pada manusia merupakan kepastian dari Tuhan. Karena merupakan kepastian
dari Tuhan maka segala yang telah terjadi justru harus disyukuri,
diambil hikmahnya dan harus diterima dengan ikhlas dan
Sumeleh (dengan hati yang lapang). Takdir yang terjadi tidak bisa diubah oleh manusia, maka manusia hanya
Sumarah (pasrah dan tabah) pada kehendak Tuhan. Sumarah dan sumeleh menunjukkan kestabilan jiwa seseorang dalam menjalani hidup.
Namun demikian, seriap orang wajib berikhtiar dan berusaha semampunya (
wiradat). Hal tersebut menggambarkan bahwa hidup ini perlu dijalani sewajarnya,
ora ngoyo
atau memaksakan diri diluar batas kemampuannya. Orang yang ngoyo,
cenderung untuk berbuat dan berperilaku tidak baik, yang justru
menjauhkan dirinya dari pencapaian fitrahnya sebagai manusia.
Brojol Merupakan Ajaran Hidup Menuju Fitrah ManusiaDapur
Brojol yang sederhana merupakan suatu symbol mengenai ajaran hidup
bagaimana seseorang untuk menjaga fitrah yang telah diberikan oleh
Tuhan. Meskipun bentuknya sederhana, dapur ini sarat dengan ajaran hidup
yang sangat dalam. Meskipun fidak mudah untuk mencapainya, namun paling
tidak ajaran ini mengingatkan manusia. Seorang yang masih sadar akan
eksistensi kemanusiaannya, tentu ia tidak mau merendahkan derajatnva, ia
bahkan akan selalu berusaha untuk mempertahankan fitrah kemanusiaannva.
Bahkan, ia akan selalu berusaha meningkatkan derajat serta kualitas
kemanusiaannya.
Nafsu- nafsu duniawi yang menghalangi pencapaian
fitrah, dikendalikan dengan tapa laku dan memahami takdir yang telah
ditetapkan oleh Tuhan. Karena hidup ini tidak lepas dari kepastian dari
Tuhan maka segala yang telah tercapai harus disyukuri, diambil hikmahnya
dan harus diterima dengan ikhlas dengan
Sumeleh (dengan hati yang lapang) dan
Sumarah
(tabah dan pasrah). Sumarah dan sumeleh menunjukkan kestabilan jiwa
seseorang dalam menjalani hidup. Namun demikian, orang harus wajib
berikhtiar, harus berusaha semampunya (
wiradat).
Namun usaha tersebut perlu dijalani sewajarnya, ora ngoyo atau
memaksakan diri diluar batas kemampuannya, melanggar ajaran agama dan
merugikan orang lain. Orang yang hidup ngoyo dan
neko-neko
(bertingkah), cenderung untuk berbuat dan berperilaku tidak baik, vang
justru menjauhkan dirinya dari pencapaian fitrahnya sebagai manusia.
Pamor singkir tergolong pamor pemilih tetapi lebih banyak yang cocok daripada tidak.
Penolak bala, guna-guna, wabah penyakit, angin ribut, banjir, bahaya api
dan lainnya.
Pamor adeg kerap kali disebut juga pamor singkir.
Sebutan ini tidak sepenuhnya benar karena Singkir adalah nama empu di
Blambangan yang kebetulan memang banyak membuat keris motif pamor adeg.
Mungkin penyebutan ini dikarenakan bahwa tuah pamor adeg dipercaya
sebagai penangkal bahaya (singkir geni, singkir baya, dll).
Semuanya kembali pada ridho Allah SWT