"Yuuuk..BELAJAR MENGENAL : KERIS"
Belum tentu semua pemegang ageman KERIS sudah mau
mempelajari tentang KERIS. Adakalanya mereka hanya suka atau bangga :
'yang penting punya pegangan'. Hehehe...Jadi... please : JANGAN NANGGUNG
!!!
(
yang lebih parah lagi adalah KERIS hanya sekedar jadi hiasan/pajangan)
Next Step > Jangan selalu menempatkan KERIS di benak kita adalah
sebuah benda yang menakutkan. Bagaimana mungkin mau kenal kalau kita
sudah takut duluan, ya nggak?!Walaupun sakral tapi tetap kita harus
mengenalnya. Kita hanya tunduk & takut pada Gusti Alloh !!!
DEAL ?!
OK...LET'S START !
Istilah Keris
Dalam budaya perkerisan ada sejumlah istilah yang terdengar asing bagi
orang awam.. Pemahaman akan istilah-istilah ini akan sangat berguna
dalam proses mendalami pengetahuan mengenai keris. Istilah dalam dunia
keris, khususnya di Pulau Jawa, yang sering dipakai: angsar, dapur,
pamor, perabot, tangguh, tanjeg, dan lain sebagainya.
Di bawah ini adalah uraian singkat yang disusun secara alfabetik
mengenai istilah perkerisan. Istilah ini lazim digunakan di Pulau Jawa
dan Madura, tetapi dimengerti dan kadang kala juga digunakan di daerah
lainnya, seperti Sulawesi, Sumatra, dan bahkan di Malaysia, Singapura,
dan Brunei Darussalam.
//Angsar
adalah daya kesaktian yang dipercaya oleh sebagian orang terdapat pada
sebilah keris. Daya kesaktian atau daya gaib itu tidak terlihat, tetapi
dapat dirasakan oleh orang yang percaya. Angsar dapat berpengaruh baik
atau posistif, bisa pula sebaliknya.
Pada dasarnya, semua keris ber-angsar baik. Tetapi kadang-kadang, angsar
yang baik itu belum tentu cocok bagi setiap orang. Misalnya, keris yang
angsar-nya baik untuk seorang prajurit, hampir pasti tidak cocok bila
dimiliki oleh seorang pedagang. Keris yang angsar-nya baik untuk seorang
pemimpin yang punya banyak anak buah, tidak sesuai bagi pegawai
berpangkat rendah.
Guna mengetahui angsar keris, diperlukan ilmu tanjeg. Sedangkan untuk
mengetahui cocok dan tidaknya seseorang dengan angsar sebuah keris,
diperlukan ilmu tayuh.
//Dapur
Adalah istilah yang digunakan untuk menyebut nama bentuk atau type bilah
keris. Dengan menyebut nama dapur keris, orang yang telah paham akan
langsung tahu, bentuk keris yang seperti apa yang dimaksud. Misalnya,
seseorang mengatakan: "Keris itu ber-dapur Tilam Upih", maka yang
mendengar langsung tahu, bahwa keris yang dimaksud adalah keris lurus,
bukan keris yang memakai luk. Lain lagi kalau disebut dapur-nya Sabuk
Inten, maka itu pasti keris yang ber-luk sebelas.
Dunia perkerisan di masyarakat suku bangsa Jawa mengenal lebih dari 145
macam dapur keris. Namun dari jumlah itu, yang dianggap sebagai dapur
keris yang baku atau mengikuti pakem hanya sekitar 120 macam saja. Serat
Centini, salah satu sumber tertulis, yang dapat dianggap sebagai
pedoman dapur keris yang pakem memuat rincian jumlah dapur keris sbb:
Keris lurus ada 40 macam dapur. Keris luk tiga ada 11 macam. Keris luk
lima ada 12 macam. Keris luk tujuh ada 8 macam. Keris luk sembilan ada
13 macam. Keris luk sebelas ada 10 macam. Keris luk tigabelas ada 11
macam. Keris luk limabelas ada 3 macam. Keris luk tujuhbelas ada 2
macam. Keris luk sembilan belas, sampai luk duapuluh sembilan
masing-masing ada semacam.
Namun, menurut manuskrip Sejarah Empu, karya Pangeran Wijil, jumlah
dapur yang dianggap pakem lebih banyak lagi. Catatan itu menunjukkan
dapur keris lurus ada 44 macam, yang luk tiga ada 13 macam, luk sebelas
ada 10 macam, luk tigabelas ada11 macam, luk limabelas ada 6 macam, luk
tujuhbelas ada 2 macam, luk sembilanbelas sampai luk duapuluh sembilan
ada dua macam, dan luk tigapuluh lima ada semacam.
Jumlah dapur yang dikenal sampai dengan dekade tahun 1990-an, lebih
banyak lagi.
//Luk
Istilah ini digunakan untuk bilah keris yang tidak lurus, tetapi
berkelok atau berlekuk. Luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap.
Hitungannya mulai dari luk tiga, sampai luk tigabelas. Itu keris yang
normal. Jika luknya lebih dari 13, dianggap sebagai keris yang tidak
normal, dan disebut keris kalawijan atau palawijan.
Jumlah luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Selain itu,
irama luk keris dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, luk yang kemba
atau samar. Kedua, luk yang sedeng atau sedang. Dan ketiga, luk yang
rengkol -- yakni yang irama luknya tegas
Mas kawin
Dalam dunia perkerisan adalah pembayaran sejumlah uang atau barang lain,
sebagai syarat transaksi atau pemindahan hak milik atas sebilah keris,
pedang, atau tombak. Dengan kata yang sederhana, mas kawin atau mahar
adalah harga.
Istilah mas kawin atau mahar ini timbul karena dalam masyarakat
perkerisan terdapat kepercayaan bahwa isi sebilah keris harus cocok atau
jodoh dengan pemiliknya. Jika isi keris itu jodoh, si pemilik akan
mendapat keberuntungan, sedangkan kalau tidak maka kesialan yang akan
diperoleh. Dunia perkerisan juga mengenal istilah melamar, bilamana
seseorang berminat hendak membeli sebuah keris.
//Mendak
adalah sebutan bagi cincin keris, yang berlaku di Pulau Jawa, Bali, dan
Madura. Di daerah lain biasanya digunakan istilah cincin keris. Mendak
hampir selalu dibuat dari bahan logam: emas, perak, kuningan, atau
tembaga. Banyak di antaranya yang dipermewah dengan intan atau berlian.
Pada zaman dulu ada juga mendak yang dibuat dari besi berpamor.
Selain sebagai hiasan kemewahan, mendak juga berfungsi sebagai pembatas
antara bagian hulu keris atau ukiran dengan bagian warangka.
//Pamor
Pamor dalam dunia perkerisan memiliki 3 (tiga) macam pengertian. Yang
pertama menyangkut bahan pembuatannya; misalnya: pamor meteorit, pamor
Luwu, pamor nikel, dan pamor sanak. Pengertian yang kedua menyangkut
soal bentuk gambaran atau pola bentuknya. Misalnya: pamor Ngulit
Semangka, Beras Wutah, Ri Wader, Adeg, dan sebagainya. Ketiga,
menyangkut soal teknik pembuatannya, misalnya: pamor mlumah, pamor
miring, dan pamor puntiran.
Selain itu, ditinjau dari niat sang empu, pola pamor yang terjadi masih
dibagi lagi menjadi dua golongan. Kalau sang empu membuat pamor keris
tanpa merekayasa polanya, maka pola pamor yang terjadi disebut pamor
tiban. Orang akan menganggap bentuk pola pamor itu terjadi karena
anugerah Tuhan.
Sebaliknya, jika sang empu lebih dulu membuat rekayasa pla pamornya,
disebut pamor rekan [rékan berasal dari kata réka = rekayasa]. Contoh
pamor tiban, misalnya: Beras wutah, Ngulit Semangka, Pulo Tirta. Contoh
pamor rekan, misalnya: Udan Mas, Ron Genduru, Blarak Sinered, dan Untu
Walang.
Ada lagi yang disebut pamor titipan atau pamor ceblokan, yakni pamor
yang disusulkan pembuatannya, setelah bilah keris selesai 90 persen.
Pola pamor itu disusulkan pada akhir proses pembuatan keris. Contohnya,
pamor Kul Buntet, Batu Lapak, dll.
//Pendok
berfungsi sebagai pelindung atau pelapis gandar, yaitu bagian warangka
keris yang terbuat dari kayu lunak. Namun fungsi pelindung itu kemudian
beralih menjadi sarana penampil kemewahan. Pendok yang sederhana
biasanya terbuat dari kuningan atau tembaga, tetapi yang mewah terbuat
dari perak atau emas bertatah intan berlian.
Bentuk pendok ada beberapa macam, yakni pendok bunton, blewehan, slorok,
dan topengan.
//Perabot
Dalam dunia perkerisan, asesoris bilah keris disebut perabot keris.
Perlengkapan atau asesoris itu meliputi warangka atau sarung keris,
ukiran atau hulu keris, mendak atau cincin keris, selut atau pedongkok,
dan pendok atau logam pelapis warangka.
//Ricikan
Adalah bagian-bagian atau komponen bilah keris atau tombak.
Masing-masing ricikan keris ada namanya. Dalam dunia perkerisan soal
ricikan ini penting, karena sangat erat kaitannya dengan soal dapur dan
tangguh keris.
Sebilah keris ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng tanda-tandanya adalah
berbilah lurus, memakai gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel
alis, dan tingil. Gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis,
dan tingil, adalah komponen keris yang disebut ricikan..
//Selut
seperti mendak (cincin keris) terbuat dari emas atau perak, bertatahkan
permata. Tetapi fungsi selut terbatas hanya sebagai hiasan yang
menampilkan kemewahan. Dilihat dari bentuk dan ukurannya, selut terbagi
menjadi dua jenis, yaitu selut njeruk pecel yang ukurannya kecil, dan
selut njeruk keprok yang lebih besar.
Sebagai catatan; pada tahun 2001, selut nyeruk keprok yang bermata
berlian harganya dapat mencapai lebih dari Rp. 20 juta!
Karena dianggap terlalu menampilkan kemewahan, tidak setiap orang mau
mengenakan keris dengan hiasan selut.
//Tangguh
Tangguh arti harfiahnya adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia
perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris,
perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya
merupakan perkiraan, me-nangguh keris bisa saja salah atau keliru. Kalau
sebilah keris disebut tangguh Blambangan, padahal sebenarnya tangguh
Majapahit, orang akan memaklumi kekeliruan tersebut, karena bentuk keris
dari kedua tangguh itu memang mirip. Tetapi jika sebuah keris buatan
baru di-tangguh keris Jenggala, maka jelas ia bukan seorang ahli tangguh
yang baik.
Walaupun sebuah perkiraan, tidak sembarang orang bisa menentukan tangguh
keris. Untuk itu ia perlu belajar dari seorang ahli tangguh, dan
mengamati secara cermat ribuan bilah keris. Ia juga harus memiliki
photographic memory yang kuat.
Mas Ngabehi Wirasoekadga, abdidalem Keraton Kasunanan Surakarta, dalam
bukunya Panangguhing Duwung (Sadubudi, Solo, 1955) membagi tangguh keris
menjadi 20 tangguh. Ia tidak menyebut tentang tangguh Yogyakarta,
melainkan tangguh Ngenta-enta, yang terletak di dekat Yogya. Keduapuluh
tangguh itu adalah:
1. Pajajaran 2. Tuban 3. Madura 4. Blambangan 5. Majapahit
6. Sedayu 7. Jenu 8. Tiris-dayu 9. Setra-banyu 10. Madiun
11. Demak 12. Kudus 13. Cirebon 14. Pajang 15. Pajang
16. Mataram 17. Ngenta-enta,Yogyakarta 18. Kartasura 19. Surakarta
Keris Buda dan tangguh kabudan, walaupun di kenal masyarakat secara
luas, tidak dimasukan dalam buku buku yang memuat soal tangguh. Mungkin,
karena dapur keris yang di anggap masuk dalam tangguh Kabudan dan hanya
sedikit, hanya dua macam bentuk, yakni jalak buda dan betok buda.
Sementara itu Bambang Harsrinuksmo dalam Ensiklopedi Keris (Gramedia,
Jakarta 2004) membagi periodisasi keris menjadi 22 tangguh, yaitu:
1. Tangguh Segaluh 2. Tangguh Pajajaran
3. Tangguh Kahuripan 4. Tangguh Jenggala
5. Tangguh Singasari 6. Tangguh Majapahit
7. Tangguh Madura 8. Tangguh Blambangan
9. Tangguh Sedayu 10. Tangguh Tuban
11. Tangguh Sendang 12. Tangguh Pengging
13. Tangguh Demak 14. Tangguh Panjang
15. Tangguh Madiun 16. Tangguh Koripan
17. Tangguh Mataram Senopaten 18. Mataram Sultan Agung
19. Mataram Amangkuratan 20. Tangguh Cirebon
21. Tangguh Surakarta 22. Tangguh Yogyakarta
Ada lagi sebuah periode keris yang amat mudah di-tangguh, yakni tangguh
Buda. Keris Buda mudah dikenali karena bilahnya selalu pendek, lebar,
tebal, dan berat. Yang sulit membedakannya adalah antara yang aseli dan
yang palsu.
//Tanjeg
adalah perkiraan manfaat atau tuah keris, tombak, atau tosan aji
lainnya. Sebagian pecinta keris percaya bahwa keris memiliki 'isi' yang
disebut angsar. Kegunaan atau manfaat angsar keris ini banyak macamnya.
Ada yang menambah rasa percaya diri, ada yang membuat lebih luwes dalam
pergaulan, ada yang membuat nasihatnya di dengar orang. Untuk mengetahui
segala manfaat angsar itu, diperlukan ilmu tanjeg. Dalam dunia
perkerisan, ilmu tanjeg termasuk esoteri keris.
//Tayuh
Merupakan perkiraan tentang cocok atau tidaknya, angsar sebilah keris
dengan (calon) pemiliknya. Sebelum memutuskan, apakah keris itu akan
dibeli (dibayar mas kawinnya), si peminat biasanya terlebih dulu akan
me- tayuh atas keris itu. Tujuannya untuk mengetahui, apakah keris itu
cocok atau berjodoh dengan dirinya.
//Ukiran
Kata ukiran dalam dunia perkerisan adalah gagang atau hilt. Berbeda
artinya dari kata 'ukiran' dalam bahasa Indonesia yang padanannya ialah
carved atau engraved. Gagang keris di Bali disebut danganan, di Madura
disebut landheyan, di Surakarta disebut jejeran, di Yogyakarta disebut
deder. Sedangkan daerah lain di Indonesia dan Malaysia, Singapura, serta
Brunei Darussalam disebut hulu keris.
Warangka
Atau sarung keris kebanyakan terbuat dari kayu yang berserat dan
bertekstur indah. Namun di beberapa daerah ada juga warangka keris yang
dibuat dari gading, tanduk kerbau, dan bahkan dari fosil binatang purba.
Warangka keris selalu dibuat indah dan sering kali juga mewah. Itulah
sebabnya, warangka juga dapat digunakan untuk memperlihatkan status
sosial ekonomi pemiliknya.
Bentuk warangka keris berbeda antara satu daerah dengan lainnya. Bahkan
pada satu daerah seringkali terdapat beberapa macam bentuk warangka.
Perbedaan bentuk warangka ini membuat orang mudah membedakan, sekaligus
mengenali keris-keris yang berasal dari Bali, Palembang, Riau, Madura,
Jawa, Bugis, Bima, atau Malaysia.
//Warangka Surakarta
Biasanya terbuat dari kayu cendana wangi atau cendana Sumbawa
(sandalwood - Santalum Album L.) Pilihan kedua adalah kayu trembalo,
setelah itu kayu timaha pelet.
Warangka ladrang terbagi menjadi empat wanda utama, yaitu Ladrang
Kasatriyan, Ladrang Kadipaten, Ladrang Capu, dan Ladrang Kacir. Dua
wanda yang terakhir sudah jarang dibuat, sehingga kini menjadi langka.
Warangka ladrang adalah jenis warangka yang dikenakan untuk menghadiri
suatu upacara, pesta, dan si pemakai tidak sedang melaksanakan suatu
tugas. Bila dibandingkan pada pakaian militer, warangka ladrang
tergolong Pakaian Dinas Upacara (PDU).
Selain ladrang, di Surakarta juga ada warangka gayaman, yang dikenakan
pada saat orang sedang melakukan suatu tugas. Misalnya, sedang menjadi
panitia pernikahan, sedang menabuh gamelan, atau sedang mendalang.
Prajurit keraton yang sedang bertugas selalu mengenakan keris dengan
warangka gayaman.
Warangka gayaman Surakarta juga ada beberapa jenis, di antaranya:
Gayaman Gandon, Gayaman Pelokan, Gayaman Ladrang, Gayaman Bancigan,
Gayaman Wayang.
Jenis warangka yang ketiga adalah warangka Sandang Walikat. Bentuknya
sederhana dan tidak gampang rusak. Warangka jenis inilah yang digunakan
manakala seseorang membawa (bukan mengenakan) sebilah keris dalam
perjalanan
Warangka Yogyakarta
Bentuk warangka di Yogyakarta mirip dengan Surakarta, hanya ukurannya
agak lebih kecil, gayanya lebih singset. Yang bentuknya serupa dengan
warangka ladrang, di Yogyakarta disebut branggah. Kayu pembuat warangka
branggah di Yogyakarta adalah kayu trembalo dan timaha. Sebenarnya
penggunaan warangka branggah di Yogyakarta sama dengan warangka ladrang
di Surakarta, tetapi beberapa dekade ini norma itu sudah tidak terlalu
ketat di masyarakat.
Jenis bentuk warangka Yogyakarta lainnya adalah gayaman. Dulu ada lebih
kurang delapan jenis warangka gayaman, tetapi kini hanya dua jenis wanda
warangka yang populer, yakni gayaman ngabehan dan gayaman banaran.
Warangka gayaman dikenakan pada saat seseorang tidak sedang mengikuti
suatu upacara.
Jenis bentuk warangka yang ketiga adalah sandang walikat, yang boleh
dibilang sama bentuknya dengan sandang walikat gaya Surakarta.
//Pamor Keris

SALAH satu aspek penting dalam eksoteri keris selain dapur, tangguh,
perabot, adalah pamor keris. Mengenai sebilah keris pada umumnya orang
akan bertanya, apa dapurnya, apa pamornya, tangguh mana, dan bagaimana
perabotnya. Sebagian orang bahkan menganggap pamor paling penting dari
semua aspek keris yang ada.
Kata pamor mengandung dua pengertian. Yang pertama, menunjuk gambaran
tertentu berupa garis, lengkungan, lingkaran, noda, titik, atau
belang-belang yang tampak pada permukaan bilah keris, tombak, dan tosan
aji lainnya. Sedangkan yang kedua, dimaksudkan sebagai jenis bahan
pembuat pamor itu.
Motif atau pola gambaran pamor terbentuk pada permukaan bilah keris
karena adanya perbedaan warna dan berbedaan nuansa dari bahab-bahan
logam yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan keris, tombak, dan
tosan aji lainnya. Dengan teknik tempa tertentu, logam bahan baku keris
akan menyatu dalam bentuk lapisan-lapisan tipis, tetapi bukan bersenyawa
atau lebur satu dengan lainnya. Karena adanya penyayatan pada permukaan
bilah keris itu, gambaran pamor pun akan terbentuk.
Gambaran pamor ini diperjelas dan diperindah dengan cara mewarangi
keris, tombak, atau tosan aji itu. Setelah terkena larutan warangan,
bagian keris yang terbuat dari baja akan menampilkan warna hitam
keabu-abuan, yang dari besi menjadi berwarna hitam legam, sedangkan yang
dari bahan pamor akan menampilkan warna putih atau abu-abu keperakan.
Teknik tempa dalam pembuatan senjata berpamor ini merupakan
ketrerampilan khas Indonesia, terutama Pulau Jawa. Bahkan seni pamor itu
mungkin bisa dibilang penemuan orang Indonesia. Tidak ada bangsa lain
selain Indonesia yang dalam catatan sejarah kebudayaannya mengenal seni
tempa senjata berpamor, sebelum abad ke-10.
//Asal Mula Pamor
Tidak ada data tertulis yang pasti mengenai kapan orang Indonesia (Jawa)
menemukan teknik tempa senjata berpamor. Namun jika dilihat bahwa
sebagian bilah keris Jalak Buda sudah menampilkan gambaran pamor, bisa
diperkirakan pamor dikenal bangsa Indonesia setidaknya pada abad ke-7.
Pamor yang mereka kenal itu terjadi karena ketidaksengajaan, dengan
mencampur beberapa macam bahan besi dari daerah galian yang berbeda.
Perbedaan komposisi unsur logam pada senyawa besi yang mereka pakai
sebagai bahan baku pembuatan keris itulah yang menimbulkan nuansa warna
yang berbeda pada permukaan bilahnya, sehingga menampilkan gambaran
pamor.
Keris dan tombak tangguh Jenggala sudah menampilkan rekayasa pamor yang
amat indah dan mengagumkan. Jelas pamor itu bukan berasal dari
ketidaksengajaan, melainkan karena teknik tempa dan rekayasa si empu.
Inilah yang menimbulkan tanda tanya, apakah Jenggala dalam perkerisan
sama dengan Jenggala dalam ilmu sejarah? Mengapa budaya masyarakat di
kerajaan yang berdiri pada abad ke-11 itu sudah terampil membuat
rekayasa seni pamor?
//Bahan Pamor
Selain menunjuk pada pengertian tentang pola gambarannya, pamor juga
dimaksudkan menunjuk pengertian mengenai bahan pembuat pamor itu.
Ada empat macam bahan pamor yang acapkali digunakan dalam pembuatan
keris, dan tosan aji lainnya. Dari yang empat itu, tiga di antaranya
adalah bahan alami, sedangkan bahan pamor yang keempat adalah unsur
logam nikel yang telah dimurnikan oleh pabrik.
Bahan pamor yang tertua adalah bahan keris dari dua atau beberaoa
senyawa besi yang berbeda. Senyawa besi yang berbeda komposisi
unsur-unsurnya itu, tentunya didapat dari daerah yang berbeda pula. Dari
bahan pamor ini, pamor yang terjadi dinamakan pamor sanak.
Bahan pamor lainnya adalah batu bintang atau batu meteor. Penggunaan
bahan meteorit untuk bahan pamor bukan hanya dilakukan oleh para empu di
Pulau Jawa, juga di daerah lain di Indonesia. Badik batu dan mandau
batu, misalnya, dibuat oleh orang Sulawesi dan Kalimantan.
Di Sulawesi selain batu bintang atau batu meteor, ada bahan pamor lain
yang banyak terdapat di daerah Luwu. Bahan pamor dari Luwu ini kemudian
menjadi komoditi dagang antarpulau, bahkan juga dikenal dan
diperdagangkan di Singapura, Semenanjung Malaya, dan Thailand. Mereka
mengenalnya sebagai pamor Luwu atau bassi pamoro.
Jenis bahan pamor yang terakhir adalah nikel. Dulu, beberapa puluh tahun
yang lalu, nikel lebih sering dijumpai sudah bercampur dengan unsur
logam lainnya, biasanya dengan besi. Tetapi kini, tahun 2000, mudah
didapat nikel murni yang dijual kiloan.
Dari empat macam bahan pamor itu, batu meteorlah yang terbaik, karena
bahan itu mengandung titanium yang banyak memiliki kelebihan
dibandingkan dengan bahan pamor lainnya. Bahan baku pamor meteorit yang
terkenal adalah yang berasal dari daerah Prambanan, Jawa Tengah, yang
kemudian dinamakan Kanjeng Kyai Pamor dan disimpan di halaman Keraton
Kasunanan Surakarta.
//Jenis-jenis Pamor Keris
Ditinjau dari teknik pembuatannya, dikenal adanya dua macam pamor, yakni
pamor mlumah dan pamor miring. Dibandingkan dengan pamor miring, pamor
mlumah relatif lebih mudah pembuatannya, dan resiko gagalnya lebih
kecil. Itulah sebabnya rata-rata nilai mas kawin (harga) keris berpamor
mlumah lebih rendah dibandingkan keris yang berpamor miring.
Ditinjau dari bagaimana terjadinya pamor itu, macam-macam motif pamor
dibagi dalam dua golongan besar, yakni pamor tiban atau pamor jwalana,
dan pamor rekan atau pamor anukarta. Yang digolongkan pamor tiban adalah
jenis motif atau pola gambaran pamor yang bentuk gambarannya tidak
direncanakan dahulu oleh si empu. Gambaran pola pamor yang terjadi bukan
karena diatur atau direkayasa oleh Sang Empu, dianggap sebagai anugerah
Tuhan. Pola pamor golongan ini di antaranya, Wos Wutah, Ngulit
Semangka, Sumsum Buron, Mrutusewu, dan Tunggak Semi.
Sedangkan yang digolongkan pamor rekan, adalah pamor yang pola
gambarannya dirancang atau direkayasa lebih dahulu oleh Sang Empu.
Termasuk jenis ini di antaranya, pamor Adeg, Lar Gangsir, Ron Genduru,
Tambal, Blarak Ngirid, Ri Wader, dan Naga Rangsang.
//Istilah-istilah Mengenai Pamor
Dalam buku-buku lama mengenai keris sering dijumpai berbagai istilah
untuk menggambarkan keadaan dan penampilan pamor. Bahasa Jawanya: Wujud
semuning pamor.
Istilah-istilah itu pada umumnya kurang begitu dikenal orang yang hidup
pada masa kini. Di antaranya adalah:
1. Pamor yang mrambut, merupakan istilah penilaian pamor melalui kesan
rabaan (grayangan - Jw.) - yakni pamor yang jika diraba dengan ujung
jari rasanya seperti meraba rambut, Munculnya pamor semacam itu pada
permukaan bilah keris bagaikan susunan helaian rambut, atau seperti
serat-serat yang halus dan lembut.
2. Pamor yang ngawat, juga berkaitan dengan kesan rabaan seperti di
atas, tetapi rasa rabaannya tidak sehalus pramor yang mrambut, -
melainkan seolah-olah seperi rabaan jajaran kawat yang lembut.
3. Pamor yang nggajih merupakan istilah penilaian pamor melalui kesan
penglihatan, yakni pamor yang tampak seperti lemak beku menempel di
permukaan bilah keris. Keris atau tosan aji yang pamornya nggajih
biasanya adalah keris yang bermutu rendah atau yang sering disebut keris
rucahan. Keris semacam itu jika dijentik (dithinthing - Jw.) biasanya
tidak berdenting.
4. Pamor mbugisan adalah istilah penilaian pamor melalui kesan
penglihatan dan rabaan. Permukaan bilah keris yang pamornya tergolong
mbugisan rabaannya halus, sedangkan gradasi berbedaan warna antara
besinya yang hitam dan pamornya yang putih keperakan tidak nyata
terlihat, tidak kontras.
5. Pamor yang nyanak adalah istilah untuk pamor Sanak atau pamor peson,
merupakan istilah penilaian pamor menurut kesan penglihatan dan rabaan.
Alur-alur pola gambaran pamor ini tidak jelas, tak kontras, tetapi
rabaannya sangat terasa, agak kasar. Keris berpamor sanak biasanya
dibuat dari bahan pamor yang berupa mineral besi yang didapat dari
daerah lain. Jika dijentik, keris dengan pamor sanak tidak berdenting
nyaring.
6. Pamor yang kelem, yang yang penampillannya cukup jelas, cukup
kontras, tetapi sedemikian rupa sehingga seolah yang terlihat ini hanya
sebagian kecil dari keseluruhan pamor. Seolah sebagian terbesar dari
pamor itu 'tengelam' di dalam badan bilah. Pamor yang kelem itu jika
diraba akan terasa lumer atau halus dan lembut.
7. Pamor yang kemambang adalah kebalikan dari pamor yang kelem. Pamor
ini memberi kesan seolah bagian pamor yang tertanam di badan bilah hanya
sedikit saja. Jika diraba, pamor kemambang juga memberikan kesan lumer
dan halus.
8. Pamor yang ngintip adalah istilah penamaan pamor yang sangat kasar
perabaannya, malahan kadang-kadang di beberapa bagian terasa tajam.
Pamor yang ngintip ini bisa terjadi karena dua sebab. Pertama si empu
boros atau dermawan (loma- Jw.) terhadap bahan pamor yang digunakannya,
sehingga jumlah bahan pamor yang digunakan berlebihan. Bisa juga terjadi
karena ketidaksengajaan, yakni untuk memberikan kesan wingit pada keris
itu.
Sebab yang kedua adalah si empu menggunakan bahan pamor bermutu tinggi,
tetapi besi yang digunakan mutunya kurang baik, sehingga besi itu cepat
aus. Sewaktu besinya sudah aus, sedangkan pamor tidak, maka pamor itu
akan 'muncul' di permukaan bilah secara berlebihan.
9. Pamor yang mubyar yakni pamor yang tampak cerah, cemerlang, dan
kontras dengan warna besinya. Walaupun warnanya kontras, namun jika
diraba akan terasa lumer, halus.
Selain istilah-istilah yang di atas, untuk menilai pamor orang juga
mengamati kondisi tertanamnya pamor pada badan bilah keris atau tosan
aji lainnya. Menurut istilah Jawa, kondisi itu disebut tancebing atau
tumancebing pamor.
Tancebing atau kondisi tertancapnya pamor pada badan bilah ada dua
macam, yakni pandes (pandhes), yang tertanamnya pamor seolah dalam dan
kokoh; dan kumambang, yaitu yang seolah-olah mengambang atau mengapung
di permukaan bilah.
//Tuah dan Perlambang
Banyak penggemar keris yang mengkaitkan nama dan motif pamor dengan tuah
keris atau tombaknya. Untuk mengetahui sebuah keris atau tombak itu
baik atau tidak tuahnya, orang lebih dahulu akan mengamati jenis motif
pamornya. Begitu pula jika orang ingin tahu apa tuah atau manfaat keris
itu, yang pertama kali dilihat adalah pamornya. Itulah sebabnya, mengapa
di kalangan penggemar keris timbul istilah ‘membaca pamor’. Mereka
menganggap bahwa tuah keris dapat dibaca dari pamornya.
Anggapan itu tidak bisa disalahkan. Soalnya, seandainya pamor itu
termasuk jenis pamor tiban, gambaran yang muncul dianggap sebagai
pratanda dari Tuhan mengenai isi dan tuah keris itu. Jadi, motif atau
pola yang tergambar pada pamor itu dianggap sebagai petunjuk untuk
memperkirakan baik buruknya keris itu, sekaligus juga memperkirakan tuah
apa yang terkandung di dalamnya.
Kalau motif pamor itu tergolong pamor rekan, maka pamor itu akan direka
oleh Sang Empu sedemikian rupa sehingga bentuk gambarannya sesuai dengan
niat empu, yang dirupakan dalam doa adan mantera yang diucapkannya.
Misalnya, jika Sang Empu menginginkan keris buatannya mempermudah si
pemilik untuk mencari rezeki, ia akan membuat pamor Udan Mas, Pancuran
Mas, Tumpuk, atau Mrutu Sewu. Tetapi jika si empu ingin agar keris
buatannya bisa menambah kewibawaan pemiliknya, empu itu akan membuat
keris dengan pamor Naga Rangsang, Ri Wader, Raja Abala Raja, dan yang
sejenis dengan itu.
Gambaran motif pamor adalah perlambang harapan. Harapan Sang Empu,
sekaligus juga harapan si pemilik keris.
Kira-kira sama halnya dengan gambaran rajah penolak bala. Atau mungkin
serupa pula dengan gambaran Patkwa yang oleh masyarakat keturunan Cina
dipercayai memiliki tuah sebagai penolak bala. Mungkin mirip juga dengan
kepercayaan sebagian orang Eropa yang menganggap bentuk ornamen ladam
kuda (sepatu kuda) sebagai bentuk yang dianggap bisa mengusir setan dan
roh jahat.
Dalam budaya Jawa - mungkin juga dibilang budaya Indonesia,
bentuk-bentuk tertentu membawa perlambang maksud dan harapan tertentu
pula.
Bentuk bulatan, lingkaran, garis lengkung, atau gambaran yang memberikan
kesan lumer, kental, tidak kaku, melambangkan kadonyan atau kemakmuran
duniawi, kekayaan, rejeki, keberuntungan, pangkat, dan yang semacam
dengan itu.
Bentuk gambaran garis yang menyudut, segi, patahan, seperti segi tiga,
segi empat, dan yang serupa dengan itu, dianggap sebagai lambang harapan
akan ketahanan atau daya tangkal terhadap godaan, gangguan, serangan,
baik secara fisik maupun nonfisik. Jika gambaran itu dirupakan dalam
bentuk pamor, itu melambangkan harapan akan kesaktian dan kadigdayan.
Bentuk garis lurus yang membujur atau melintang, atau diagonal,
dipercaya sebagai lambang harapan akan kemampuan untuk mengatasi atau
menangkal segala sesuatu yang tidak diharapkan. Pamor yang serupa itu
dianggap dapat diharapkan kegunaannya untuk menolak bala, menangkal
guna-guna dan gangguan makhluk halus, menghindarkan bahaya angin ribut
dan badai, terhindar dari gangguan binatang buas dan binatang berbisa.
Misalnya, pamor Adeg.
Karena itulah, seorang empu sebenarnya juga bisa dibilang seniman yang
memahami bahasa perlambang, dan menggunakan gambaran pamor sebagai media
komunikasi.
Dimasa lalu, setiap pria Jawa terutama bangsawan dan priyayi, pada saat
menjalankan tugasnya sehari-hari, selalu mengenakan busana tradisional
lengkap dengan sebilah keris dipinggangnya. Setiap priyayi paling tidak
memiliki dua buah, satu untuk dipakai harian, sedangkan yang lain untuk
upacara resmi dan upacara di karaton. Tentu saja, keris yang kedua
mempunyai kualitas dan penampilan yang lebih bagus.
Dizaman kuno, keris dipergunakan sebagai senjata untuk berperang ataupun
untuk bertarung satu lawan satu. Pada saat ini, fungsi keris adalah
untuk pelengkap busana tradisional. Namun demikian, keris tetap
dihargai, diperlakukan dengan baik. Orang tradisional menghargai keris
sebagai pusaka yang berharga dan barang seni yang bernilai tinggi. Keris
dinilai berkualitas tinggi, kalau mempunyai penampilan fisik yang
anggun dan punya daya spiritual yang bagus.
//TUAH
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tuah antara lain berarti sakti,
keramat; berkat (pengaruh) yang mendatangkan keuntungan (kebahagiaan,
keselamatan, dsb). Secara umum, dalam dunia perkerisan tuah diartikan
sebagai kesaktian, daya luwih, kekuatan magis, dan manfaat gaib yang
terkandung dalam sebilah keris atau tosan aji lainnya. Bagi mereka yang
percaya akan adanya tuah pada sebilah keris, daya gaib yang terpancar
atau 'sesuatu' yang dirasakan itulah yang disebut angsar.
Pada dasarnya tuah keris itu selalu baik dan untuk kebaikan. Tetapi tuah
keris belum tentu akan cocok manfaatnya bagi seseorang. Ilmu untuk
mengenal dan mengetahui jenis-jenis angsar disebut ilmu tanjeng. Untuk
mengetahui cocok atau tidaknya sebilah keris bagi seseorang, digunakan
ilmu tayuh.
Kepercayaan akan adanya tuah, baik pada keris maupun pada benda lainnya,
bukan hanya ada pada masyarakat Jawa, Indonesia, atau Asia saja juga
pada banyak bangsa dari benua lainnya. Bagi sebagian orang, terutama
pecinta keris yang masih tergolong pemula, tuah keris dianggap dapat
dibuktikan secara fisik, misalnya, lilin menyala dapat padam dengan
sendirinya bila diacungi sebuah keris tertentu. Atau, bila keris
tertentu direndam dalam air, di bawah sinar terang matahari, tampak
seperti ular hidup. Atau, keris tertentu yang bilamana dipegang, rambut
orang itu tidak dapat dipotong dengan pisau silet. Dan, atraksi-atraksi
mirip sulap lainnya.
Namun sebagian besar pecinta keris menganggap bahwa tuah keris
sebenarnya tidak bisa dilihat, namun dapat dirasakan. Misalnya, setelah
mendapat sebilah keris, rumah tangga yang sebelumnya selalu ribut, jadi
tenteram dan rukun. Atau, kariernya lebih lancar, atau usahanya lebih
maju, dlsb. Yang jelas, pengertian tentang tuah keris ini terkadang
bersifat subyektif, lain orang bias lain pendapatnya. Semua itu
tergantung pada lingkungan dan pengalaman hidup masing-masing.
Menayuh Keris
//TAYUH
Adalah sejenis ilmu tradisional yang digunakan untuk menentukan apakah
sebilah keris akan cocok dipakai atau dimiliki oleh seseorang, atau
tidak. Ilmu ini terutama bermanfaat untuk meningkatkan kepekaan
seseorang agar dia dapat menangkap kesan karakter sebilah keris dan
menyesuaikan dengan kesan karakter dari calon pemiliknya. Contohnya,
keris yang menampilkan karakter keras, galak, tidak baik dipakai oleh
seorang yang sifatnya keras dan kasar. Untuk orang semacam itu sebaiknya
dipilihkan keris yang karakternya lembut, dingin.
//Cara Me-nayuh
Ada berbagai cara untuk me-nayuh sebilah keris atau tombak. Di Pulau
Jawa dan dibeberapa daerah lainnya, yang terbanyak adalah dengan cara
meletakkan keris atau tombak itu di bawah bantal, atau langsung dibawah
tengkuk, sebelum tidur. Agar aman, keris atau tombak itu lebih dahulu
diikat dengan sehelai kain dengan sarungnya. Dengan cara ini si Pemilik
atau orang yang me-nayuh itu berharap dapat bertemu dengan 'isi' keris
dalam mimpinya. Namun cara ini tidak senantiasa berhasil. Kadang-kadang
mimpi yang dinantikan tidak muncul, atau seandainya mimpi, sesudah
bangun lupa akan isi mimpinya.
Jika malam pertama tidak berhasil biasanya akan diulangi pada malam
berikutnya, dan seterusnya sampai mimpi yang diharapkan itu datang.
Keris atau tombak itu dianggap cocok atau jodoh, bilamana pada saat
ditayuh orang bermimpi bertemu dengan seorang bayi, anak, gadis, atau
wanita, pemuda atau orang tua, yang menyatakan ingin ikut, ingin
diangkat anak, atau ingin diperistri.
Bisa jadi, yang ditemui dalam mimpi termasuk juga makhluk yang
menakutkan. Mimpi yang serupa itu ditafsirkan sebagai isyarat dari 'isi'
keris yang cocok atau tidak cocok untuk dimiliki.
Bagi orang awan, cara me-nayuh lewat mimpi inilah yang sering dilakukan,
juga sampai sekarang. Selain cara itu masih banyak lagi cara lainnya.
Untuk dapat me-nayuh keris atau tosan aji lainnya, tidak harus lebih
dulu menjadi seorang ahli. Orang awan pun bisa, asalkan tahu caranya.
Dalam masyarakat perkerisan juga dikenal apa yang disebut keris tayuhan,
yaitu keris yang dalam pembuatannya lebih mementingkan soal tuah
daripada keindahan garap, pemilihan bahan besi, dan pembuatan pamornya.
Keris semacam itu biasanya mempunyai kesan wingit, angker, memancarkan
perbawa, dan ada kalanya menakutkan.
Walaupun segi keindahan tidak dinomorsatukan, namun keris itu tetap
indah karena pembuatnya adalah seorang empu. Padahal seorang empu,
tentulah orang yang mempunyai kepekaan keindahan yang tinggi. Patut
diketahui, keris-keris pusaka milik keraton, baik di Yogyakarta maupun
di Surakarta, pada umumnya adalah jenis keris tayuhan. Dapur keris
tayuhan, biasanya juga sederhana, biasanya juga sederhana, misalnya,
Tilam Upih, Jalak Dinding, dan Mahesa Lajer.
Bukan jenis dapur keris yang mewah semacam Nagasasra, Naga Salira,
Naga Kikik, atau Singa Barong. Selain itu, keris tayuhan umumnya
berpamor tiban. Bukan pamor rekan. Di kalangan peminat dan pecinta
keris, keris tayuhan bukan keris yang mudah diperlihatkan pada orang
lain, apalagi dengan tujuan untuk dipamerkan. Keris tayuhan biasanya
disimpan dalam kamar pribadi dan hanya dibawa keluar kamar jika akan
dibersihkan atau diwarangi.
//Menanjeg Keris
Ilmu tanjeg dalam dunia perkerisan di Pulau Jawa -- terutama di
Yogyakarta dan Surakarta, adalah ilmu untuk membuat penilaian mengenai
karakteristik atau sifat tuah, serta manfaat gaib sebuah keris atau
tosan aji lainnya. Dalam budaya perkerisan di Pulau Jawa dikenal adanya
istilah angsar yang merupakan kekuatan gaib sebilah keris. Apa manfaat
dan apa pula mudaratnya angsar itu, dapat di ketahui dengan manggunakan
ilmu tanjeg.
Dengan ilmu tradisional itu, bagi yang percaya, seseorang dapat
mengetahui kegunaan gaib dari sebuah keris,tombak, atau tosan aji
lainnya. Dengan ilmu tanjeg, misalnya, sebuah keris dikatakan mempunyai
manfaat dapat melindungi pemiliknya dari gangguan mahluk halus, dapat
menahan serangan guna-guna,menambah wibawa dan keberanian pemiliknya.
Orang yang memahami ilmu tanjeg pada umumnya disabut ahli tanjeg.
//Ilmu tanjeg ini ada dua macam.
Yang pertama dengan melakukan pengamatan lahiriah sebuah keris, baik
dari besinya, pamornya, cara pembuatannya, bentuknya, dan rabaannya.
Cara ini juga di sebut nanjeg cara eksoteri. Misalnya, kalau keris itu
ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng, bisa diduga manfaat atau tuah keris itu
adalah baik untuk mencari rezeki dan cocok untuk para pedagang. Kalau
keris itu pamornya Tunggaksemi, maka keris itu baik untuk mengembangkan
modal. Jika penampilan keris itu berkesan penampilan wingit, maka tidak
baik untuk dipakai para pedagang.
Cara kedua adalah dengan mengandalkan kemampuan batiniah secara
tradisional. Cara ini banyak macamnya,dan hanya dapat dipelajari dengan
metode tradisional, antara lain dengan berpuasa, menghafalkan dan selalu
mengulang-ngulang mantera dan doa tertentu, dengan bimbingan orang yang
menguasai ilmu itu. Cara itu disebut cara esoteri.
Banyak para ahli tanjeg yang menggunakan kedua cara itu untuk menilai
angsar sebilah keris,atau tosan aji lainnya.
Seorang ahli tanjeg, pada umumnya diminta pendapatnya, kalau seseorang
ingin membeli atau akan mendapatkan keris. Sebab keris dulu yang dibuat
sang empu untuk keperluan keprajuritan, tidak akan sesuai digunakan oleh
seorang pedagang. Keris yang dulu dibuat khusus untuk orang yang
berusia tua dan telah pensiun, tentu tidak baik digunakan oleh orang
muda yang masih aktif bekerja.
Ilmu tanjeg tidak hanya ada di Pulau Jawa dan di Indonesia saja.
Walaupun cara cara dan metodenya tidak sama, di Brunei Darussalam pun
ilmu yang semacam dengan ilmu tanjeg itu juga ada. Dan, hasil tanjeg pun
tidak jauh berbeda. Misalnya, sebuah keris yang di tanjeg oleh ahli di
Pulau Jawa di katakan bermanfaat baik untuk berdagang baik untuk
berdagang, mengembankan usaha, dan memupuk kekayaan; dengan ilmu tanjeg
ala Brunei, keris yang sama, dikatakan keris berisi besi bendahara.
Eksoteri adalah telaah yang membahas hal-hal yang dapat terlihat, dapat
diraba, dan bisa diukur. Dalam dunia perkerisan, eksoteri keris meliputi
pembicaraan masalah dapur keris, pamor keris, warangka (sarung) keris,
ukiran (hulu) keris, termasuk teknik pembuatan dan sejarah asal usulnya.
Bentuk bilah keris terdiri atas ratusan dapur (lihat Istilah Keris).
Dari yang ratusan itu bisa dibagi menjadi dua golongan besar, yakni
bilah keris yang lurus, dan yang memakai luk.


ESOTERI KERIS
Adalah semacam ilmu atau pemusatan perhatian terhadap apa yang tidak
tampak dari luar, pada sebilah keris. Esoteri keris antara lain
membicarakan soal tuah, tanjeng, tayuh, khasiat, daya magis, manfaat,
pengaruh, isi, penunggu, dan yang semacam dengan itu.
Terlepas soal percaya atau tidak, benar atau salah, maka esoterikeris
merupakan salah satu dari banyak cabang budaya perkerisan. Ia selalu
dibicarakan orang, baik yang percaya maupun tidak, bukan hanya
dikalangan masyarakat pecinta keris di Indonesia, tetapi juga di negara
lain, termasuk negara-negara barat. Biasanya, selain dibicarakan dari
sudut budaya, esoteri keris juga sering dibahas dari sudut agama.
Lawan kata dari esoteri keris adalah eksoteri keris atau exoteri keris.
Berbeda dengan esoteri keris, maka eksoteri keris membicarakan soal-soal
keris yang tampak dari luar. Antara lain yang dibicarakan soal dapur
keris, pamor, jenis besi dan yang semacam dengan itu.
Pembicaraan soal esoteri keris hampir selalu berkaitan dengan soal tuah
atau kesaktian keris. Karena soal tuah amat erat kaitannya dengan
pengalaman pribadi seseorang, sikap spiritual seseorang, maka soal
esoteri itu tidak dapat diperdebatkan.

Pesona Mistis Dapur Keris Sabuk Inten Pamor Beras Wutah
UNTUK SEBUAH KEMULIAAN DAN SPIRIT PANTANG MENYERAH
Sekiranya tak berlebihan bila keris dikatakan sebagai fenomena.
Pasalnya, jenis senjata yang sekaligus juga dianggap pusaka ini sarat
dengan makna. Belum lagi model, gaya dan aura serta fungsinya yang
sungguh sangat beraneka. Ditambah faktor mistis, yang membuat keris
menjadi legendaris dan karenanya historis
. Berkait sejarah atau nilai historisnya, jagat perkerisan di tanah Jawa
mencatat banyak kisah keris pusaka ampuh yang legendaris. Mulai dari
Keris Mpu Gandring di zaman Singosari hingga keris zaman peralihan
Majapahit Hindhu ke Demak Islam. Misalnya Kiai Condong Campur, Nogososro
dan Sabuk Inten serta Kiai Sengkelat. Belum lagi keris keris milik para
Kanjeng Sunan penyebar Islam seperti keris Kiai Kala Munyeng, Kiai
Carubuk dan banyak lagi.
Di zaman itu, keris tak hanya dipandang sebagai pusaka saja. Tapi juga
sasmita zaman. Pada tataran inilah sebenarnya, sejak itu keris sudah
bertambah fungsinya menjadi semacam prasasti atau candra sengakala. Pada
akhirnya keris diakui sebagai benda multi fungsi dan multi makna.
Sebagai prasasti atau candra sengakala, keris sengaja dibuat dengan
ricikan sedemikian rupa, sehingga merujuk pada sebuah angka tahun. Hal
demikian setidaknya pernah dilakukan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo,
raja besar Mataram Hadiningrat di Jogjakarta.
Pewaris dinasti Kerajaan Islam terbesar dan paling kawentar itu membuat
keris dengan ganja kinatah emas berelief Gajah-Singa. Keris itu
diperuntukkan sebagai hadiah bagi para senopati perangnya, yang telah
berjasa menaklukkan pemberontakan Raja Pragola, di Pati, Jawa Tengah.
Ukiran ganja kinatah Gajah Singa itu lengkapnya berbunyi Gajah Singa
Keris Siji. Gajah berarti 8, Singa berarti 5, Keris berarti 5, dan Siji
berarti 1. Deretan angka itu kemudian dibaca dari belakang menjadi 1558.
Angka ini adalah angka tahun Jawa. Tahun kemenangan Sultan Agung
Hanyokrokusumo atas Kadipaten Pati yang hendak membangkang kepada
Narendra Agung Mataram Hadiningrat, Sultan Agung. Sebagai pemberian,
sebenarnya keris itu juga berfungsi sebagai tanda pernghargaan. Dengan
berbagai bentuk atau dapur dan pamornya, dengan sendirinya tercipta
adanya ciri khas tersendiri. Ciri khas ini kemudian merujuk pada sebuah
identitas. Keris pun lalu menjadi simbol identitas dinasti atau derajat
kepangkatan seseorang.

Bangsa Indonesia bangga bahwa karya pinisepuhnya yang berupa
Keris telah diakui oleh UNESCO pada tahun 2005 sebagai Warisan Budaya
Indonesia
"SALAM BUDAYA "