Translate

Selasa, 09 Juli 2013

ILMU KERIS

ILMU KERIS







   Dalam budaya Jawa tradisional, keris tidak semata-mataa dianggap sebagai senjata    tikam yang memiliki keunikan bentuk maupun keindahan pamor, akan tetapi juga sebagai kelengkapan budaya spiritual. Ada satu anggapan yang berlaku di kalangan Jawa tradisional yang mengatakan, seseorang baru bisa dianggap paripurna jika ia sudah memiliki lima unsur simbolik: curiga, turangga, wisma, wanita, kukila.
Curiga, secara harafiah artinya keris, turangga artinya kuda atau kendaraan (simbol masa kini adalah motor atau mobil), wisma adalah rumah, wanita arti khususnya isteri, dan kukila arti harafiahnya adalah burung. Arti simbolik burung di sini, bagi seorang pria Jawa tradisional, ia harus mampu mengolah, menangkap dan menikmati keindahan serta berolah-seni. Curiga, atau keris, secara simbolik maksudnya adalah kedewasaan, keperkasaan dan kejantanan. Seorang pria Jawa tradisional, harus tangguh dan mampu melindungi diri, keluarga atau membela negara. Perlambangnya adalah keris.
Pada zaman kerajaan-kerajaan di masa lalu, tanda mata paling tinggi nilainya adalah keris. Pemberian paling berharga dari seorang Raja Jawa kepada para perwiranya atau abdi dalem, adalah keris.
Pada perkembangannya, keris di lingkungan kerajaan bisa menjadi simbol kepangkatan. Keris seorang Raja, tentu saja berbeda dengan keris perwira atau abdi dalem bawahannya. Tidak hanya bilah kerisnya saja yang berbeda, akan tetapi juga detil-detil perhiasan serta perabot yang melengkapinya pun berbeda.
Gradasi kepangkatan dari pemilik keris, juga bisa ditilik dari warangka yang menyarungi atau membungkus bilah keris. Warangka seorang Raja, tentu saja berbeda dengan warangka bawahannya. Bila seorang ksatria, tepat kiranya bila warangka yang dipakainya adalah warangka dengan wanda (model) kasatriyan. Pejabat kerajaan, memakai warangka kadipaten. Ada lebih dari 25 varian warangka Jawa di masa lalu yang bisa menjadi indikator kepangkatan pemiliknya. Bahkan daerah asal pun bisa ditilik dari warangkanya, apakah pemiliknya orang dari Yogyakarta, Surakarta, Banyumas, Jawa Timur, Madura atau Bali.





PAMOR KERIS








Pamor merupakan hiasan atau motif atau ornamen yang terdapat pada bilah tosan aji (Keris, Tombak, Pedang atau Wedung dan lain lainnya). Hiasan ini dibentuk bukan karena diukir atau diserasah (Inlay) atau dilapis tetapi karena teknik tempaan yang menyatukan beberapa unsure logam yang berlainan.
Teknik tempa ini sampai saat ini hanya dikuasai oleh para Empu dari wilayah Nusantara dan sekitarnya saja (Malaysia, Brunei, Philipina dan Thailand) walau ada yang berpendapat asal teknik ini dari Tibet atau Nepal, tetapi pendapat tersebut tidak beralasan sama sekali.

Diluar wilayah Nusantara dan sekitarnya biasanya hanya dikenal teknik Inlay saja seperti pedang dari Iran atau negara Eropa lainnya sehingga walau secara seni (art) tampak indah tetapi kesan “Wingit” nya tidak ada sama sekali.
Ada kalanya Pedang buatan Empu diluar wilayah Nusantara terdapat juga Pamor, tetapi biasanya karena tanpa sengaja sewaktu dibuat pedang tersebut tercampur beberapa logam lainnya yang mengakibatkan timbulnya pamor tersebut, kadangkala munculnya pamor tersebut setelah pedang tersebut berumur ratusan tahun.
Ini pula yang mungkin menjadi dasar Empu diwilayah Nusantara (Khususnya Jawa) yang mengolah cara pencampuran berbagai logam sehingga terbentu pamor yang indah dan bernilai seni tinggi.
Bahan pamor ini oleh kebanyakan penulis dari barat dikatakan dari bahan Nikel, padahal ini salah sama sekali karena berdasarkan penelitian oleh Bapak. Haryono Aroembinang MSc (alm) dan beberapa ahli di BATAN Jogjakarta didapat bukti bahwa bahan itu adalah Titanium, suatu bahan yang baru pada abad 20 digunakan sebagai bahan pelapis kendaraan angkasa luar, padahal empu kita sudah menggunakannya dari dulu. Ini diterangkan sebagai berikut, ketika meteor masuk ke atmosfir bumi maka sebagian besar bahan tembaga, besi, nikel, timbel, kuningan terbakar hancur dan hanya titanium yang bertahan sampai bumi. Bahan baku pamor dahulu dibuat dari meteor yang terdapat dibumi sehingga keris jaman dulu banyak mengandung Titanium dan beratnya juga ringan.
Terkenal dulu bahan pamor dari Luwu, Sulawesi Selatan yang dibawa oleh pedagang dari Bugis.
Bahan Pamor yang paling terkenal adalah Pamor Prambanan, saat ini ada di Kraton Surakarta diberi nama Kanjeng Kyai Pamor dan ukurannya sekarang tinggal sekitar 60x60x80 Cm sebesar meja kecil karena sudah banyak digunakan empu membuat karis pesanan dari Kraton.
Setelah bahan meteorit susah didapat, barulah bahan Nikel digunakan, sehingga keris saat ini bobot nya biasanya lebih berat dari keris kuno.

PAMOR MLUMAH, PAMOR MIRING
Dilihat dari cara pembuatannya sebetulnya hanya dua cara pembuatan Pamor yang baik yaitu Mlumah dan Miring. Pamor mlumah adalah lapisan-lapisan pamornya mendatar sejajar dengan permukaan tosan aji sedangkan pamor miring lapisan pamornya tegak lurus permukaan bilah.
Ada juga tosan aji yang dibuat dengan kombinasi pamor mlumah dan miring hanya saja pembuatannya sangat sulit, lebih sulit dari pembuatan pamor miring.
Pamor Mlumah biasanya bermotif Beras Wutah, Ngulit Semangka, Satria Pinayungan, Udan Mas, Wulan-wulan dan sebagainya, sedangkan Pamor Miring umumnya motif Adeg, Batu Lapak, Sodo Saeler, Tumpuk dll. Kesan Pamor Miring agak kasar bila diraba bilahnya dan nyekrak dibanding pamor mlumah.







Apabila lipatannya banyak, baik di pamor mlumah atau miring, maka hasilnya kemungkinan akan menjadi pamor luluhan, praktis pamor dan besi sudah “menyatu” walau tidak terlalu homogen, ini akan terlihat dengan menggunakan kaca pembesar.
Pamor luluhan yang gampang terlihat antara lain di keris buatan Empu Pitrang dijaman Blambangan, diantara pamor Adeg pada beberapa bagian bilah tampak pamor luluan yang sepintas seperti pamor Nggajih.
Kalau lipatannya lebih banyak lagi seperti buatan Empu Pangeran Sedayu maka pamor luluhan ini tidak tampak dengan mata telanjang dan sangat kecil atau tiad mungkin kena karat karena menyatunya bahan pamor dengan bahan besinya.

Cara lainnya
Ada cara lain membuat pamor selain Mlumah dan Miring yaitu dengan cara mengoleskan bahan pamor ke bilah, biasanya bukan dari batu meteorit tetapi logam yang titik leburnya lebih rendah dari besi, caranya dengan menuangkan bahan tersebut yang cair kebilah besi yang membara kemudian dioleskan dengan ujung mancung (kelopak bunga) kelapa sebelum bahan cair tersebut mengeras dan dibuat pamor yang dikehendaki si Empu. Hasilnya umumnya kasar bila diraba dan pamor ini disebut Ngintip (dari Intip/Kerak nasi).







Cara ini hanya digunakan Empu luar keraton, empu Desa atau disebut juga empu Njawi.Ada lagi cara membuat pamor dengan menyiramkan bahan pamor cair ke bilah membara dari pangkal keris keujungnya, pamornya dinamakan Nggajih karena menyerupai lemak.


PAMOR REKAN dan PAMOR TIBAN.
Sewaktu membuat keris, Sang Empu berpasrah diri kepada Tuhan YME dan menyerahkan saja bagaimana bentuk pamor yang terjadi maka biasanya pamor yang timbul disebut pamor Tiban, sedangkan bila selama pembuatan direka oleh sang Empu maka pamor yang terjadi disebut pamor rekan.
Pamor rekan sering juga gagal dalam pembuatannya, misal sang empu ingin membuat pamor Ron Genduru tetapi jadinya malah Ganggeng Kanyut.
Sebenarnya agak sulit membedakan mana pamor rekan atau tiban karena bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda.






PAMOR MUNGGUL   






Banyak yang menganggap pamor ini pamor titipan, selain itu banyak yang menganggap ini sebagai pamor tiban karena tidak bisa dibuat secara sengaja.
Pamor ini seperti bisul menonjol sekitar 1 mm diatas permukaan bilah umumnya berbentuk lingkaran, baik bulat atau lonjong tetapi ada yang berbentuk gambar membujur lancip panjang. Letaknya bisa dibagian sor-soran, tengah ataupun pucuk. Bisa ditepi atau tengah bilah dan termasuk pamor yang baik serta dicari banyak orang.
Bagaiman pamor ini timbul tidak bisa diterangkan secara pasti, tetapi diduga saat “masuh” atau membersihkan bahan keris dari kotoran, ada unsur logam lain yang menyelip dan lebih keras dari unsur logam besi, tetapi ini baru dugaan saja.



PAMOR AKHODIYAT
Namanya kadang Akordiyat, Kodiyat atau Akadiyat. Wujudnya menyerupai lelehan dari tepi bentuk pamor dengan warna putih cemerlang keperakan dan lebih cemerlang dibanding keputihan pamor pada umumnya.
Ada yang menganggap sebagai pamor titipan atau “sifat” dari pamor tersebut, ternyata semua salah.
Sebetulnya ini terjadi karena penempaan pamor tersebut dilakukan pada suhu yang tepat yang berbeda setiap bahannya, jadi susah diduga berapa suhu yang tepat itu, sehingga banyak yang sepakat bahwa pamor ini dikategorikan ke pamor tiban.
Di Madura biasa disebut pamor “dheling”, kalau tersebar dipermukaan bilah disebut “dheling setong” dan dianggap mempunyai tuah baik.
Pamor dheling yang terbaik terdapat di pucuk bilah dan disebut “dheling pucuk” dan atau dibagian peksi yang disebut “dheling peksi”.



PAMOR TITIPAN.






Pamor ini berbentuk rangkaian kecil yang merupakan perlambang atau tuah tertentu dan pamor ini jarang berdiri sendiri, umumnya tergabung dengan pamor lain yang lebih dominan, antara lain Beras Wutah, Pulo Tirto atau Pendaringan Kebak.
Pamor ini ada yang merupakan pamor tiban, tidak sengaja dibuat seperti Pamor Rahala, Dikiling, Inkal, Putri Kinurung, Gedong Mingkem, Jung Isi Dunya, Telaga Membleng dll.
Pamor titipan yang merupakan pamor rekan antara lain yang terkenal adalah Kuto Mesir, Kul Buntet, Udan Mas, Watu Lapak dll.
Pamor Titipan yang merupakan pamor tiban dibuat bersama dengan pamor lainnya sedangkan yang rekan biasanya dibuat setelah pamor dominan jadi, merupakan pamur yang disusulkan.




DHAPUR KERIS

Dhapur Lurus

1. Betok
2. Brojol
3. Cengkrong
4. Cundrik
5. Gajah Singa
6. Singa
7. Jaka Lola
8. Kebo Lajer
9. Jalak Dinding
10. Jalak Ngore
11. Jalak Nguwung
12. Jalak Tilam Sari
13. Jalak Sumelang Gandring
14. Jalak Sangu Tumpeng
15. Jamang Murub
16. Sardula Mangsah
17. Kebo Dhendeng
18. Dhuwung
19. Kebo Dhungkul
20. Lar Ngatap
21. Kelap Lintah
22. Regol
23. Laler Mangeng
24. Sineba
25. Mesem
26. Temanggung
27. Mundharang
28. Ron Teki
29. Pasupati
30. Mangkurat
31. Putut
32. Pinarak
33. Panji Nom
34. Panji Penganten
35. Karna Tinandhing
36. Sampur
36. Cadhong
37. Sempaner
38. Kalamisani
39. Sepang
40. Yuyu Rumpung
41. Singa Sangu Tumpeng
42. Sona
43. Sinom
44. Sinom Wora Wari
45. Sujan Ampel
46. Kebo Teki
47. Semar Petak
48. Karsesa
49. Tilam Sari
50. Kala Munyeng
51. Tilam Upih
52. Pulang Geni [A]
53. Tebu Sauyun
54. Condong Campur
55. Semar Tinandu
Luk 3

1. Campur Bawur A/B2. Lara Siduwa
3. Mahesa Nempuh
4. Pudhak Jangkung
5. Segara Winotan
6. Tebu Saoyotan
7. Sembada
8. Urubing Dilah 9. Panji Caluring
10. Jangkung
11. Jangkung Mayang
12. Jangkung Pacar
13. Jangkung Segoro Winotan
14. Bango Dolok
15. Mayat
16. Lar Monga
Luk 5

Luk 7

Luk 9

Luk 11
1. Sabuk Inten
2. Bandotan
Luk 13

Luk 15
1. Bima Krodha
2. Mahesa Nyabrang
3. Sedhet 4. Carita Buntala
5. Rangga Pasung
6. Rangga Wilah
Luk 17 - 29
1. Ngampar Buta
2. Lancingan
3. Trimurda
4. Kalatinantang
5. Trisirah 6. Drajit
7. Bima Rangsang
8. Ranggawirun
9. Kalabendu
10. Ranggawulung




BAGIAN KERIS


UKIRAN - Jejeran - Handel - Deder - Hulu Keris

Ukiran, Jejeran, Handel, “Hilt”, Deder, Pegangan, Hulu keris atau apa saja namanya merupakan suatu bentuk benda untuk tempat pegangan tangan dari sebuah tosan aji.
Kebanyakan terbuat dari bahan kayu yang keras, berserat bagus dan gampang dibentuk, logam atau tulang, tanduk serta gading gajah. Terbanyak dibuat dari kayu Tayuman (Caesia laevigata Willd), Cendana, akar kayu jati, akar mawar hutan atau Kemuning (Murraya paniculata Jack.) dengan ukiran yang kadang melambangkan suatu maksud tertentu.





Benda ini kelihatannya sederhana tetapi sebetulnya merupakan suatu kesatuan utuh dengan tosan aji tersebut dan tidak terpisahkan. Keindahan suatu keris dinilai pertama kali dari ukirannya karena ini yang langsung terlihat, pamor dan besi keris sendiri tersembunyi didalam rangka.

Kadang kita melihat keris dengan gaya Jogjakarta tetapi mempunyai hande gaya Solo atau sebaliknya, ini menunjukan bahwa yang bersangkutan tidak mengetahui bahwa Ukiran tersebut bisa juga merefleksikan tempat asal tosan aji tersebut dan juga berkaitan dengan perlengkapan tosan aji yang lainnya seperti rangka, mendak, selut atau pendok.

Bagi para pecinta tosan aji terutama yang baru mulai, adalah sangat penting memperhatikan hal-hal kecil seperti apakah ukiran yang dipakai tersebut memang sesuai dengan keris yang dipunyainya, jangan sampai contohnya orang dengan pakaian jas yang sangat rapih tetapi memakai sepatu olah raga.



Ada pula orang yang justru karena sesuatu hal (mungkin karena takut mistis dari tosan aji tersebut atau alasan lain) tidak mengkoleksi tosan aji, akan tetapi justru mempunyai koleksi ukiran cukup banyak dan bervariasi, ini menunjukan bahwa ukiran sudah merupakan suatu seni tersendiri yang mencirikan suatu daerah tertentu dan bisa terlepas dari bentuk tosan aji seutuhnya.

Sayangnya saat ini sudah semakin sedikit pengrajin ukiran (di Jawa namanya Mranggi), apalagi yang masih mengikuti pakem atau aturan yang baku, ini mungkin disebabkan lamanya membuat ukiran tersebut yang bisa 4 hari (dari masih berbentuk bahan samapi jadi) bahkan lebih kalau menggunakan gading atau logam sedangkan hasil yang diperoleh tidaklah sebanding dengan tenaga dan pikiran yang digunakan. Belum lagi apabila ukiran tersebut disesuaikan dengan sifat atau watak sipemesan, bila wataknya halus maka sebaiknya ukiran tersebut bisa mencerminkan sifat tersebut. Selain itu juga bahan pembuatnya yang termasuk kualitas baik juga semakin jarang (kayu Tayuman misalnya) sehingga harga dari ukiran tersebut juga tidak terlalu tinggi, padahal ketelitian dan usaha membuatnya hampir sama antara ukiran dengan bahan yang baik dengan bahan yang biasa saja padahal harganya bisa berlipat kali perbedaannya.

Biasanya pengrajin ukiran menggunakan kayu “blak” atau contoh “molding” yang biasanya terdiri dari 4 bagian untuk membuat ukiran tersebut (khususnya untuk ukiran dari Jawa Tengah) yang bisa ditrapkan dan dipaskan untuk diterapkan kepada ukiran yang sedang digarap, ini untuk menjaga agar ukuran dan ciri ukiran tersebut standard , karena beda bentuknya sedikit saja maka ukiran tersebut sudah jatuh nilainya, yang membedakan mutu tinggal di “seni ukir” dan kehalusan serta ketelitian dari si pengrajin saja ditambah mungkin motif kayu yang tepat (ada kendit atau polengnya).

Pada beberapa tosan aji, antara ukiran dan tosan ajinya menyatu merupakan satu kesatuan bahan, ini biasanya disebut “deder iras”, umumnya terdapat dikeris kuno yang dikenal dengan sebutan “Keris Majapahit”, walau ini merupakan ungkapan yang salah kaprah karena belum tentu tosan aji itu buatan jaman Majapahit.

ACCESORIS KERIS
Mendak Gaya Surakarta


Mendak Gaya Yogyakarta


Macam Model Sarung Keris





Senin, 08 Juli 2013

SUPRANATURAL


KHASIAT RAGAM MINYAK & FUNGSINYA

Jenis2 dan Fungsi Minyak

Minyak Ambar
berasal dari batu amber yang dipanaskan dimana batu tersebut berasal dari getah salah 1 nya ialah getah pinus. Bau khasnya seperti tanah akan terasa dan ini adalah yang terfavorite bagi saya dalam menemani bermeditasi

Minyak Apel Jin / Tukhafatu Al Jinn

ada yang sudah berbentuk sari minyak yang berasal dari proses apel jin yang berbentuk gel di proses menjadi minyak.
Minyak ini buat pemanggil jin sayangnya ini sudah langka dan banyak palsunya dan aslinya masih di negeri Yaman.

Minyak Bulus.
Berasal dari binatang bulus dan berfungsi utk pengasihan atau membesarkan alat vital.

Minyak Bayi Kelinci.
Berasal dari bayi kelinci. Berfungsi utk pelet dan pengasihan. Berfungsi agar wajah kita terlihat imut dan manis. Berasal dari bayi kelinci yang imut dan baru lahir danyg dipilih ialah bagian jidatnya dan atas alisnya karena disitu letak pengasihannya.

Minyak Cendana :
- Mengubah energy negatif menjadi positif
- Memperkuat aura

Minyak Cendana, Gaharu, Cinnamon dan Sandalwood berfungsi untuk membersikan energi buruk yang bersifat maskulin sehingga akan membawa kerbersihan pada energi yang sudah kotor. Berguna utk menolak gangguan jin, melindungi diri ketika merasa takut melewati daerah yang dianggap menakutkan dan berguna utk menambah rasa percaya diri.
Minyak Cendana, Cinnamon dan Sandalwood . Cendana ialah sangat bagus sebagai pembersih aura. bisa. Jika cendana kita bakar lalu uapnya kita biarkan ke wajah kita niscaya wajah kita akan mencorong terang luar biasa (dan bagus buat terapy aura). Minyak Cendana di tanah Jawa ialah sebagai tradisi pengolesan pada keris sehingga dianggap minyak yg sangat tinggi untuk memelihara dan merawat keris keraton.

Minyak Cendana

ialah minyak yang cocok digunakan untuk meditasi. Minyak Cendana itu mempunyai kesamaan karakter dengan Minyak Gaharu

Minyak Cinnamon.

Wangi Minyak Cinnamon sangat bagus digunakan untuk penghalusan kulit, terutama bagi terapi kecantikan menggunakan bedak dicampur dengan cinnamon ini akan memancarkan aura menjadi lebih bersih. Serbuk Cinnamon dapat juga dijadikan sebagai salah 1 pembuatan pil aura yang bagus

Minyak Cobra

Minyak ini juga mujarab untuk pengisian rajahan pada logam

Minyak Crude Oil


Minyak Dagu.
Minyak ini terbuat dari bagian tubuh manusia. Fungsinya banyak macamnya. Di thailand sendiri, minyak ini terkenal dengan nama minyak mayat, minyak Nha Mang Phray atau NMP.

Empowering minyak dagu dengan dicampur dengan minyak jafaron dan utk menjinakkannya bisa memakai misik hitam atau rajah. Bagi yang blm terbiasa akan mengalami efek gatal.


Minyak Duyung
untuk pengasihan dan puter giling, tetapi banyak berhasil jika dipakai para wanita.

Minyak Fonibasalwa
ini dimasa lalu sebagai syarat untuk harta/barang terpendam. Sayangnya sekarang ini sudah langka dan banyak palsunya.

Minyak Gaharu

berfungsi untuk mendekatkan kita kepada leluhur. Cara penggunaannya cukup dioleskan di nadi tangan kanan dan kiri kita.
berasal dr saripati kayu gaharu ini juga memiliki aroma dan tingkat kekentalan yg sangat kuat. Minyak ini warnanya hitam agak kecoklat2an.

Minyak Saripati Kayu Gaharu
Minyak ini bagus banget buat spiritual dan leluhur sangat menyukai jika minyak dipakai untuk urusan tirakat dan ceremonial budaya.

Minyak Hajar Aswad.

Minyak ini ketika dicampur dengan sedikit misik putih dan ditambah dengan sedikit cendana kraton akan menghasilkan efek menenangkan bathin dan cepat masuk kedalam state meditatif. Pemakaian biasa saya oleskan di 7 cakra utama.
Minyak Hajar Aswad. Minyak ini untuk pengasihan juga, tapi kebanyakan buat ibadah, biar disukai Malaikat.

Minyak Infinity, Lemon, Jeruk, J-Lo dan Happy Clinic

berfungsi untuk membersihkan aura pengguna dan juga untuk mempengaruhi birahi lawan jenis sang pengguna.

Minyak Jafaron:

- Untuk mengaktifkan benda
- Memperkuat aura

Minyak Jafaron Merah,
salah satu fungsinya ialah sebagai pembangkit energi dan sekaligus pembangkit birahi. Baunya yang menyengat dan membuat mata menjadi pedas dan inilah yang menyebabkan setelah pembuatan rajah dengan menggunakan Jafaron merah baik itu Jafaron tulis maupun Jafaron masak akan merasa sedikit lebih bergairah. Cara pengolesannya cukup dioleskan ke nadi kita


Minyak Jafaron Biasa.
Ada dua macam, sebagai parfum atau untuk membuat rajahan. Sesungguhnya Za`faron itu ialah kunyit super kalau di kita. Manfaatnya ialah untuk cleansing atau pembersih aura
atau juga bahkan sebagai desinkfektan suci hama penghalau virus penyakit secara tinjauan medis.Dan tinjauan supranya ialah untuk pengasihan dan membuat tenang dan stabil diri kita. Silahkan test ambil kunyit biasa lalu dipotong, kemudian oleskan batu kapur
niscaya seketika kunyit itu akan berobah warna dari kuning menjadi merah menyala dan itulah Za`faron. Namun hati-hati jangan menggunakan terlalu banyak Za`faron perfume karena akan mengakibatkan naiknya nafsu birahi pada kita dan orang sekitar kita.

Minyak Jafaron Jibril

Minyak Ketsuri atau Minyak Atsiri

Minyak Kantil.
Berasal dari bunga kantil. Cocok untuk media pengasihan. Salah 1 pengaktifannya dengan cahaya rembulan pada malam jumat kliwon ditambah setetes air hujan dimalam jumat kliwon.

Minyak Kelapa Tunggal atau Manunggal

sebagai campuran pendukung paling top buat campuran minyak pengasihan dan pengobatan

Minyak Lavender
berfungsi untuk membuat tenang suasana diri dan bagi para supranaturalis sangat berguna untuk mempercepat latihan meraga sukma atau sebagai perantara penghubung ke alam gaib cukup dengna menghirup aromanya.

Minyak Misik:
- Mempertahankan aura/ energy
- Menstabilkan energy agar tidak naik turun

Minyak Misik Putih atau White Musk.
Misik Putih ini ialah misik concentrate dari misik biasa dan tentu saja akan menimbulkan efek melebihi khasiat dari misik hitam.
Minyak berasal dari keringat menjangan jantan yang sedang mengalami birahi untuk menarik lawan jenisnya. Keringat menjangan ini memiliki karakter keringatnya membentuk crystal2 kecil yang kemudian di extract menjadi minyak misik putih special / white musk dimana didalamnya terdapat hormon pheromone pembangkit birahi lawan jenis. Sama halnya dengan Mani Gajah yang mampu menghasilkan bau2 khas pembangkit birahi. Sebenarnya sperma para pria lah yang sebenarnya memiliki kekuatan pembangkit birahi yang baik yang kemudian dapat dicampurkan kedalam minyak yang menunjangnya. Adapun pengambilannya mengikuti pola dan hari2 tertentu dimana ada musim saat dimana menjangan, manusia dan gajah tsb pada waktu melepas birahi tersebut dalam bentuk sperma. Dan paling sering rata2 pada saat bulan purnama.


Minyak Misik Hitam,
inilah yg dimasa lalu banyak digunakan, sebab khasiatnya menyebabkan harmonisasi jiwa dan menjadikan disukai dalam pergaulan, juga dapat meredakan amarah, konsentrasi tertentu dari minyak ini juga berakibat mempengaruhi efek pheromone yg menyebabkan birahi luar biasa. Misik atau Musk Oil ialah butiran keringat kijang gunung yg mengkristal berwarna hitam keemasan dan mengkilat kena cahaya lalu menjadi butiran butiran yg menempel pada pundaknya yg akhirnya terlepas berceceran seperti batu kecil lembut. Keringat itu dikeluarkan tatkala masa kijang tersebut dalam kondisi birahi dan bermanfaat untuk dapat membuat kijang betina menjadi birahisehingga terlaksana perkimpoian antara kijang jantan dan betina.

Minyak Misik Kuning
Minyak Misik Melati
Minyak Malindao
Minyak Mimta'da
l

Minyak Jasmine, Melati dan Cuddle
berfungsi membuat aroma kelembutan bagi sang pengguna sehingga orang yang melihat akan timbul efek belas kasihan dan kepada sang pengguna karena mereka akan melihat sang pengguna adalah sosok yang lugu
Minyak Melati, Jasmine dan Cuddle. Minyak ini berfungsi untuk penenang, bagus buat stabilisasi jantung, juga buat birahi dan pengasihan

Minyak Menthol atau Tavvares
berfungsi untuk menghilangkan pengaruh pelet atau pemikat atau menghilangkan khayalan ttg seseorang yang dicintai atau disayanginya terlalu berlebihan. Jika minyak ini dicampur denan minyak lavender, maka akan membuat orang pemarah menjadi tenang dan menghilangkan pikiran yang membuat hati gelisah atau emosi.

Minyak Malaikat Subuh

Minyak Mawar, Rose, Enternity, Axe, Cassablanca dan 1000 Bunga

berfungsi untuk menampakkan ketenangan kepada suasana sekitar dimana pengguna akan terlihat lebih cerah, lebih tenang dan nyaman dipandang buat lawan jenis yang melihat

Minyak Sereh

Ada 2 manfaat :
- untuk pengobatan masuk angin
- untuk pengasihan daya tarik

Minyak Sulaiman

Minyak Sulaiman ini juga langka, dan terbukti mujarab untuk urusan membantu orang.

Minyak Sundalul Ahmar atau Ahmad

Tavvares
Minyak Tukhafatu Al Jinn (Apel Jin)
Minyak Miatusaila


Minyak 1000 Bunga.

Minyak ini berwarna hijau muda dan mempunyai bau yang tahan lama. Minyak ini harganya relatif terjangkau dan memiliki aroma yang sangat khas.
Campuran Minyak 1000 Bunga terdiri dari Minyak Mawar, Minyak Melati dan Minyak Cendana. Ketiganya dicampur dengan komposisi yg sama.

Minyak Zaitun

sangat cocok di oleskan di cakra dasar cakra seks dan cakra perut konon ke 3 cakra inilah yang membantu kita dalam peningkatan kerejekian.



PENGGUNAAN MINYAK :

Penggunaan minyak berkaitan dengan pengaktifan titik2 pada tubuh kita seperti di :

- pergelangan tangan...
- telapak tangan
- kening
- ubun2
- dada
- tiap persendian
- tiap cakra
- tiap titik lathoif


Minyak Untuk Tujuan Pengolesan Benda Bertuah :


1. Minyak Bumi. Minyak Bumi yang keluar pertamakali dalam perut bumi pada saat pengeboran pertama ialah salah 1 minyak yang dapat membooster energi dan khasiat dari benda2 tersebut.

2. Atau bisa menggunakan komposisi ini :

Gabungan dari :
1. Minyak misik hitam
2. Minyak Jaffaron
3. Minyak Melati keraton
4. Minyak Cendana
5. Minyak Hajar Aswad
6. Minyak Gaharu
7. Minyak Cempaka
8. Minyak Kasturi
Dengan perbandingan 1:1 dan dapat meningkatkan energi dan khasiat benda2 tersebut juga.

Campuran Minyak Untuk Mandi Kembang :
Bisa dipilih dan tidak harus semuanya.

- Misik Hitam
- Misik Putih
- Cendana
- Malaikat subuh
- Cempaka
- zafaron
- hajar aswad
- kenanga
- Kasturi
- Ambar
- Gaharu
- Duyung
- Sedap Malam
- Melati Keraton
- Mawar
- 2000 bunga
- 1000 bunga
- Minyak Zaitun / olive oil

Hubungan Minyak Dengan Pembangkitan 7 Chakra Dapat di Jelaskan sbb :


1. Minyak Misik Hitam (Chakra Dasar)
2. Minyak Jaffaron (Chakra Seks)
3. Minyak Melati keraton (Chakra Jantung)
4. Minyak Cendana (Chakra Ajna)
5. Minyak Hajar Aswad (Chakra Mahkota)
6. Minyak Gaharu (Chakra ajna)
7. Minyak Kasturi (Chakra minor didaerah urat nadi kita dan atau untuk Chakra Tenggorokan)

Metoda Pendeteksian Vibrasi pada Minyak :

1. Mendeteksi dengan pendulum yaitu minyak asli yg belum dicampur kita deteksi dengan pendulum kemudian cobalah mencampur dengan dosis tertentu kita cek lagi bagaimana hasilnya jika minyak 1 tarik menarik minyak ke 2 tolak menolak dipastikan tidak akan berhasil untuk menciptakan minyak jenis penarik. Jika fungsinya sudah saling memperkuat maka minyak tersebut sudah siap dipakai. Tinggal di empowerment lebih lanjut lagi dan di treatment khusus.

2. Mendeteksi dengan telapak tangan dan merasakan jenis minyak tersebut menarik atau menolak untuk jenis pemikat biasanya jenis yang menarik.

3. Mendeteksi dengan vibrasi tiap chakra.

4. Mendeteksi dengan terawangan dan keilmuan.

Campuran Minyak Mani Gajah terdiri dari
- Minyak Kelapa Tunggal
- Mani Gajah
- Buluh Perindu asli
- Sayap Burung Samber Lilin
- Getah Kilayu
- Minyak duyung
- Bunga Wijaya Kusuma
- Mustika Merah Delima
Menentukan Keaslian Sebuah Minyak :

1. Viskositas atau Kekentalan dari minyak tersebut. Tidak semua minyak asli harus kental atau cair. Kekentalan bukan sebuah tolak ukur karena tergantung dari kadar minyak dan bahan baku minyak tersebut.

2. Color atau Warna. Banyak opini menyebutkan bahwa warna minyak yang asli berwarna kuning, merah, hitam, hijau dan biru. Sementara yang berwarna putih atau bening sering disebut jelek atau tidak asli. Karena semua warna minyak yang tercipta dari bahan baku dan teknik penyaringan atau filtrasi minyaknya.

3. Source atau Asal dari Minyak tersebut. Banyak orang yg menghubungkan negara Saudia Arabia dengan keaslian minyak. Karena sebagian besar minyak bunga2an berasal dari negara France atau Perancis sementara minyak kayu2an dan buah2an lebih banyak berasal dari Germany atau Jerman.

Rabu, 03 Juli 2013

Tempat-Tempat Menjalankan Laku Prihatin di Tanah Jawa

Tempat-Tempat Menjalankan Laku Prihatin di Tanah Jawa

Lelaku, atau melakukan perjalanan spiritual, menapaktilasi jejak para leluhur, adalah satu kegiatan yang lazim dilakukan para spiritualis di Tanah Jawa. Dalam tulisan ini, ijinkan saya untuk berbagi cerita dan infromasi, tentang tempat-tempat yang telah saya datangi dalam rangka lelaku tersebut.

Petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro
Petilasan dalam bentuk makam ini, berada di lembah dua gunung yang berdampingan, yaitu Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Tepatnya, ia berada di Selo, termasuk Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Menuju tempat ini, bisa melalui Boyololali, dari arah Cempaga, atau masuk dari Kabupaten Magelang, tepatnya dari Wekas (Kaponan / Magelang).
Raja-raja Mataram, hingga Raja-raja dari Keraton Jogja, sering menjadikan petilasan ini sebagai tempat bertapa.
Ki Ageng Kebo Kanigoro adalah putra dari Adipati Pengging, yang menikah dengan Retno Pembayun, putri dari Prabu Brawijaya V. Beliau adalah kakak dari Ki Ageng Kebo Kenongo. Karena kegemarannya mencari ilmu kesejatian, beliau meninggalkan Kraton Pengging, dan lebih suka mengembara.

Hal menarik yang terekam di benak saya adalah, betapa indahnya tempat ini. Petilasan ini dikelilingi pohon-pohon besar. Tanahnya hijau berlumut..laksana dilapisi karpet hijau nan indah. Suasananya sungguh membuat hati tergetar, sekaligus damai. Apalagi jika kita berada di sana, saat kabut turun. Wow…sungguh menakjubkan.

Petilasan Pengging
Di Desa Pengging, Kec. Banyudono, kita bisa menemukan beberapa petilasan leluhur dari Kraton Pengging yang saling berdekatan. Yang pernah saya kunjungi adalah satu komplek makam, di sana terdapat makam Eyang Pengging Sepuh, Eyang Retno Pembayun, dan Ki Ageng Kebo Kanigoro. Tentu saja, bukan makam sebenarnya, hanya sebuah tanda/petilasan, tempat kita bisa sowan pada beliau-beliau. Tak jauh dari situ, kita bisa temukan makam Ki Ageng Kebo Kenongo, yang menyatu dengan makam umum.
Di samping makam, di Desa Pengging, kita bisa menemukan beberapa tuk, atau mata air, tempat kita bisa kungkum, berendam, atau sekadar menikmati segarnya air di situ untuk membasuh muka dan badan.

Petilasan Ki Ageng Tarub
Ki Ageng Tarub adalah leluhur yang menurunkan raja-raja Jawa. Letak makam beliau adalah di Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan. Satu komplek dengan makam beliau, terdapat makam Raden Mas Bondan Kejawan atau disebut juga dengan Ki Lembu Peteng yang di berijulukan juga sebagai Ki Ageng Tarub II beliau Putra dari Raja Majapahit Maha Prabu Brawijaya V yang menjadi murid sekaligus putra menantu Ki Ageng Tarub. Eyang Bondan Kejawan ini menikah dengan Dewi Nawang Sih, putri Ki Ageng Tarub dari pernikahannya dengan Dewi Nawang Wulan.

Lebih jelas, sejarah singkat beliau adalah sebagai berikut: Ki Ageng Tarub adalah nama lain dari Jaka Tarub, yang bersahabat dengan Prabu Brawijaya V raja Majapahit. Pada suatu hari Prabu Brawijaya V mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub.

Utusan Prabu Brawijaya V yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui kalau Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Prabu Brawijaya V. Maka, pemuda itu pun diminta agar tinggal bersama di desa Tarub.

Sejak saat itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan.

Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa.
Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.

Petilasan Ki Ageng Selo
Makam Ki Ageng Selo, berada di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo Purwodai, persis berseberangan jalan dengan makam Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Selo, adalah cucu dari Ki Ageng Tarub, dari putra beliau Ki Ageng Getas Pendawa. Ki Ageng Sela tercatat pernah mendaftar sebagai perwira di Kesultanan Demak. Ia berhasil membunuh seekor banteng sebagai persyaratan seleksi, namun ngeri melihat darah si banteng. Akibatnya, Sultan menolaknya masuk ketentaraan Demak. Ki Ageng Sela kemudian menyepi di desa Sela sebagai petani sekaligus guru spiritual. Ia pernah menjadi guru Jaka Tingkir, pendiri Kesultanan Pajang. Ia kemudian mempersaudarakan Jaka Tingkir dengan cucu-cucunya, yaitu Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.

Ki Ageng Sela juga pernah dikisahkan menangkap petir ketika sedang bertani. Petir itu kemudian berubah menjadi seorang kakek tua yang dipersembahkan sebagai tawanan pada Kesultanan Demak. Namun, kakek tua itu kemudian berhasil kabur dari penjara. Untuk mengenang kesaktian Ki Ageng Sela, pintu masuk Masjid Agung Demak kemudian disebut Lawang Bledheg (pintu petir), dengan dihiasi ukiran berupa ornamen tanaman berkepala binatang bergigi runcing, sebagai simbol petir yang pernah ditangkap Ki Ageng. Bahkan, sebagian masyarakatJawa sampai saat ini apabila dikejutkan bunyi petir akan segera mengatakan bahwa dirinya adalah cucu Ki Ageng Sela, dengan harapan petir tidak akan menyambarnya.

Ki Ageng Sela juga berkaitan dengan asal-usul pusaka Mataram yang bernama Bende Kyai Bicak. Dikisahkan pada suatu hari Ki Ageng Sela menggelar pertunjukan wayang dengan dalang bernama Ki Bicak. Ki Ageng jatuh hati pada istri dalang yang kebetulan ikut membantu suaminya. Maka, Ki Ageng pun membunuh Ki Bicak untuk merebut Nyi Bicak. Akan tetapi, perhatian Ki Ageng kemudian beralih pada bende milik Ki Bicak. Ia tidak jadi menikahi Nyi Bicak dan memilih mengambil bende tersebut. Bende Ki Bicak kemudian menjadi warisan turun temurun keluarga Mataram. Roh Ki Bicak dipercaya menyatu dalam bende tersebut. Apabila hendak maju perang, pasukan Matarambiasanya lebih dulu menabuh bende Ki Bicak. Bila berbunyi nyaring pertanda pihak Mataram akan menang. Tapi bila tidak berbunyi pertanda musuh yang akan menang.

Selain pusaka, Ki Ageng Sela meninggalkan warisan berupa ajaran moral yang dianut keturunannya di Mataram. Ajaran tersebut berisi larangan-larangan yang harus dipatuhi apabila ingin mendapatkan keselamatan, yang kemudian ditulis para pujangga dalam bentuk syair macapat berjudul Pepali Ki Ageng Sela.

Gua Langse
GUA Langse berada di kaki tebing pantai Parangtritis. Warga sekitar juga menyebut Gua Langse sebagai Gua Kanjeng Ratu Kidul. Gua ini sering dikunjungi oleh raja-raja Mataram. Yang paling terkenal terkait dengan gua ini, adalah kisah pertemuan antara Panembahan Senopati, pendiri Kraton Mataram, dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Dari pantai Parangtritis untuk menuju Gua Langse masih harus berjalan sekitar 3 km ke arah timur menaiki perbukitan. Sebelum menuju ke gua, di pos jaga, kita akan diminta mengisi buku tamu dan memberi donasi bagi perawatan gua. Dari sini kita masih harus berjalan kaki sekitar 750 m menyusuri jalan setapak di antara rerimbunan ladang. Kita juga bisa diantar oleh salah seorang penjaga, langsung menuju ke gua.

Sesampainya di bibir tebing atas Gua Langse, kita masih harus menuruni tebing tempat Gua Langse berada, dengan jalan turun berupa campuran antara tangga yang sudah lapuk, akar, dan tonjolan bebatuan. Ya, kita harus menaklukkan tebing dengan ketinggian 300-400 m dan nyaris tegak lurus dengan suara deburan ombak yang keras menerjang tebing dan karang-karang.

Sendang Beji
Sendang Beji terletak di Dusun Girijati, Parangrejo, Panggang, Gunung Kidul. Tempat ini dapat dicapai melalui jalan aspal yang menghubungkan Prangtritis-Panggang. Lokasi ini akan mudah dicapai dengan engikuti jalan aspal di sebelah timur parkiran bus pariwisata Pantai Parangtritis. Setelah sampai di pertigaan jalan aspal pengunjung dapat mengikuti arah ke timur (kanan)-arah ke Gua Langse.

Setelah sampai di pertigaan kampung yang mengarah ke Candi Gembirawati dan Gua Langse, pengunjung dapat mengikuti jalan ke arah Candi Gembirawati. Jika pengunjung berkendaraan, maka kendaraan harus dititipkan ke rumah penduduk setempat sebab jalan menuju lokasi Sendang Beji adalah jalan setapak dengan menembus tegalan, sawah, dan kebun. Rumah terdekat dari lokasi Sendang Beji untuk penitipan kendaraan berada di sisi selatan Candi Gembirawati.
Sendang Beji ini sekarang telah dibuatkan talud yang juga berfungsi sebagai penampung utama dari kucuran airnya. Talud yang berfungsi sebagai bak penampung ini memiliki ukuran panjang sekitar 20 meter, lebar bagian hilir 6 meter, lebar bagian hulu 13 meter. Kedalaman rata-rata dari sendang ini sekitar 0,5 meter.

Sendang ini juga dilengkapi dengan tempat peristirahatan sebanyak satu buah. Tempat peristirahatan ini kira-kira berukuran 7,5 meter X 9 meter. Kecuali itu tempat ini juga dilengkapi dengan mushala dengan ukuran kira-kira 7,5 X 12 meter. Sendang juga dilengkapi dengan kamar mandi berukuran sekitar 4 meter X 4 meter. Sedangkan bak penampungan yang berfungsi untuk membagi air berukuran sekitar 3 X 8 meter.

Keberadaan sendang ini juga dikengkapi dengan tempat pemujaan sebanyak 4 buah. Tempat pemujaan I (terletak di tengah sendang) memiliki ukuran sekitar 2 meter X 4 meter. Pemujaan di tengah sendang ini diperkeras dengan lantaikeramik warna merah dan putih. Ukuran keramik 20 cm x 20 cm. Pemujaan yang kedua (di sisi atas sendang) memiliki ukuran sekitar 2,5 meter X 5 meter. Pada tempat pemujaan kedua ini dilengkapi juga dengan arca batu setinggi kira-kira 2 meteran. Demikian pula tempat pemujaan yang ketiga (di sisi atas pemujaan yang kedua) juga dilengkapi arca batu setinggi 2 meteran. Tempat pemujaan yang ketiga ini memiliki ukuran sekitar 4 X 8 meteran. Sedangkan pemujaan yang ke-4 terletak di dinding timur tempat peristirahatan. Tempat pemujaan yang keempat ini berukuran sekitar 80 Cm X 80 Cm.

Sendang Beji di Girijati adalah tempat yang dulunya pernah digunakan mandi oleh serombongan bidadari dari Kahyangan. Karena pada zaman dulu keletakan sendang dengan air jernih yang tidak pernah kering ini berada di punggung bukit dalam lindungan hutan yang lebat, maka keletakannya menjadi disukai para bidadari. Salah satu bidadari yang mandi di sendang ini menurut sumber setempat bernama Dewi Nawangwulan (istri Jaka Tarub).

Grobogan Menyimpan 10 Ribu Pusaka Kuno

Grobogan Menyimpan 10 Ribu Pusaka Kuno



Wabup Grobogan tengah mengamati beberapa keris pada Gelar Pusaka Jawa di pendapa kabupaten.
GROBOGAN – Kabupaten Grobogan menyimpan ribuan pusaka Jawa peninggalan kerajaan Majapahit, Mataram, dan Pajang. Seperti jenis keris dan tombak. Pusaka yang dinilai mempunyai kekuatan gaib tersebut sebagian dipamerkan pada acara Gelar Pusaka Jawa di pendapa Kabupaten Grobogan Jalan Gatot Subroto Purwodadi, Selasa (25/06/2013)

“Di Grobogan ada sekitar 10 ribu pusaka kuno. Yang kita pamerkan ini ada sekitar 700 buah. Sisanya di tangan pemilik
karena sesuatu hal tidak berani mengeluarkan dari tempat penyimpanan, dan sebagian lagi masih berada di beberapa titik lokasi yang hanya diketahui orang tertentu,” ungkap pendiri Kasepuhan Wijoyo Kusumo Eyang Sukardi ketika ditanya
KRjogja.com, di sela-sela mendampingi Wabup H Icek Baskoro mengamati pusaka kuno di pendapa Kabupaten Grobogan.

Disebutkan, pusaka Jawa jenis keris dan tombak banyak tersimpan di Grobogan. Pasalnya, kabupaten terluas kedua di Jateng ini posisinya berada di segitiga kerajaan. Sebelah barat kerajaan Pajang, timur Kerajaan Majapahit dan sebelah selatan Kerjaan Mataram. Namun belum banyak masyarakat Grobogan tahu jika wilayahnya menyimpan ribuan pusaka. “Sejak Kabupaten Grobogan berdiri 287 tahun lalu, baru kali ini ada gelar Pusaka Jawa,” harap Sukardi.

Hal sama diutarakan Wabup H Icek Baskoro, bahwa gelar pusaka Jawa perlu ditingkatkan. Tujuannya agar pusaka peninggalan nenek moyang kita tersebut dijaga dan diuri-uri, serta masyarakat biar tahu jika daerahnya menyimpan pusaka yang adi luhung tersebut

SEJARAH DAN PUSAKA SOEKARNO

Arsip untuk ‘SEJARAH DAN PUSAKA SOEKARNO’ Kategori

Pusaka-pusaka Bung Karno


Benda PusakaFoto: Benda Pusaka
Sebilah pusaka besar maknanya bagi Ir. Soekarno. Kecintaannya pada warisan leluhuritu, terlihat dari banyaknya tosan aji yang dimiliki. Salah satu pusaka sakti miliknya, didapat dari Gunung Nabi di Papua saat berkecamuk Perang Dunia (PD II).
ROKLAMATOR RI ini kabarnya memiliki ratusan pusaka. Padahal, putra sang fajar tersebut, dikenal sebagai sosok pria yang rasional dan bervisi jauh ke depan. Kendati demikian, sejarah kehidupannya, ternyata tidak lepas dengan hal-hal yang bersifat spiritual budaya, seperti keris, tombak, dan pusaka lain.
Sadar koleksinya bisa raib, atau lantaran rasa sukanya pada pusaka yang teramat tinggi, beberapa benda pusaka lalu diboyong ke istana.
Selanjutnya, dibuatkan tempat khusus dan dikelola oleh sebuah yayasan.
Adapun yang kedapuk mengurus benda-benda pusaka itu adalah Guruh Soekarnoputra, sebagai Ketua Yayasan Bung Karno yang berdiri sejak 1978. Bagi alumni Fakultas Arkeologi Universiteit van Amsterdam, Belanda ini, merawat pusaka ayahandanya jadi amat mengasyikkan.
Pimpinan Sanggar Tari Swara Mahardika ini pada suatu kesempatan pernah berujar bahwa benda-benda pusaka itu didapat dari leluhur, istana, dan keluarga. Istana yarig dimaksud adalah Istana Merdeka, Istana Bogor, Batutulis, dan lain-lain.
Bentuk pusaka-pusaka itu beragam. Ada keris, tombak, tongkat komando, dan sebagainya. Pusaka Bung Karno kebanyakan berasal dari jalur ayah, kakek moyang yang kebetulan berdarah Majapahit.
Sementara dari nenek atau ibu berasal dari keturunan Raja Buleleng. Dengan begitu ada juga yang berasal dari Singosari. Pusaka itu dikumpulkan sejak Bung Karno masih muda hingga jadi presiden dan sesudahnya. Jumlahnya masih terus diinventarisasi.
Sebab, pusaka itu ada beberapa yang masih di istana dan di keluarga, belum pernah dipanierkan pula. Belum termasuk cindera niata dari negara-negara lain, seperti batu giok dari Cina, pedagang Samurai dari Jepang, dan lainnya. Hingga sekarang, baru sepersepuluh benda peninggalan Bung Karno yang pernah dipamerkan. Keluarga Bung Karno merasa tidak heran bila ada beberapa pihak mengaku memiliki ‘tongkat komando’ Bung Karno. Sebab, segala sesuatu yang berhubungan dengan Bung Karno, selalu menjadi fenomena menarik. Tidak hanya di dalani negeri, tapi juga di luar negeri. “Kalau : ada yang mengklaim punya,: pusaka Bung Karno asli, itu urusan mereka. Apa pun klaim di luaran, itu terserah mereka,” papar Guruh pada sebuah media ibu kota.
Di Keluarga dan Istana
Bung Karno memang punya berbagai model tongkat komando. Tetapi yang paling sering dibawanya pada acara-acara kenegaraan, hanya satu atau dua. Adapun yang paling sering dibawa itu, tak lain sebilah tongkat dan juga keris yang ada di ruang hening.
Lantaran seringnya membawa tongkat saat bepergian, pada akhirnya memunculkan polemik di masyarakat. Tak sedikit warga masyarakat mengaku, memiliki pusaka Bung Karno. Mensikapi polemik tersebut, pihak keluarga tak ingin terpancing. Karena itu, jika ada orang yang mengaku memiliki tongkat atau keris Bung Karno, terlebih dulu harus dibuktikan keasliannya.
Ditegaskannya bahwa pusaka Bung Karno semua ada di keluarga dan di istana. Kalau ada keluarga tertentu merasa mempunyai pusaka, ada proses lanjut apakah bisa dibuktikan kebenarannya atau tidak.
Sejarah mencatat.pada dekade 1942 Bung Karno pernah berada di Babo, Papua. Wilayah ini punya arti dan nilai historis tinggi berkaitan erat dengan ‘Keris Pusaka’ yang diperoleh Bung Karno dari Gunung Nabi melalui Kaliopes Cosmos Werbete. Dia salah seorang pelaku sejarah setempat. Kepada wartawan dirinya pernah berkisah bahwa Bung Karno berada di Babo ketika Perang Duma (PD) II niasih berkecamuk. Tokoh yang kemudian menjadi salah satu Proklamator RI itu, jelasnya menjadi incaran tentara Jepang untuk dibunuh.
Guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, Bung Karno dilarikan dari Babo ke Kampung Refideso oleh Cosmos Werbete, kemudian menuju Gunung Nabi.”Di Gunung keramat itulah Bung Karno diberi keris wasiat,”ungkap Keliopes kepada wartawan ibu kota. Setelah membawa keris tersebut, Bung Karno berhasil meloloskan diri dari percobaan pembunuhan.
Tapi pada ujungnya, bersama Cosmos Werbete pemilik keris tersebut, Bung Karno diasingkan Belanda.
Digembleng Tokoh Kuno
Jiwa Jawi Bung Karno merupakan cerminan semangat hidup yang mengedepankan keutamaan. Menghargai hidup dan kehidupan. Baginya, hidup adalah memberikan bukti kebaikan dan karena itu semasa remaja dirinya gemar laku prihatin. Semua itu dilakukan untuk membentuk jiwa jawinya supaya sekokoh baja.
Konon, kegemaran laku ini berawal dari beberapa guru spiritualnya dari Jogjakarta yang tak diketahui siapa, sejatinya nama dari sang guru spiritual tersebut. Sebab, dalam dunia spiritual ada pantangan untuk tidak menyebut nama. Ada kisah nyalawadi sebelum Kusno lahir. Kala itu, Keraton Jogjakarta kehilangan sebilah pusaka sakti. Tiba-tiba entah dari niana asalnya, di lingkungan keraton muncul isu bahwa pusaka yang hilang tersebut bersemayam di rahim ibunda Bung Karno. Lalu lewat peristiwa gaib setelah Kusno lahir, langsung diangkat jadi murid tokoh trah Keraton Jogjakarta.
Meski Bung Karno dikenal rasional dan bervisi jauh ke depan, kehidupan presiden pertama RI ini tidak lepas dengan hal-hal yang bersifat spiritual-budaya, seperti keris, tombak dan pusaka lain. Karena itulah beberapa benda pusaka lalu diboyong ke istana.
Dan pusaka-pusaka itu kini dibuatkan tempat khusus yang dikelola sebuah yayasan. Lembaga yang mengurus benda-benda pusaka itu adalah Guruh Soekarnoputra, sebagai Ketua Yayasan Bung Karno sejak 1978. Bagi alumni Fakultas Arkeologi Universiteit van Amsterdam, Belanda ini, memelihara pusaka ayahandanya jadi amat mengasyikkan.
Guruh pernah mengemukakan pendapatnya soal pusaka peninggalan Bung Karno itu. Menurutnya benda-benda itu didapat dari leluhur, istana dan keluarga. Istana yang dimaksud adalah Istana Merdeka, Istana Bogor, Batutulis dan lain-lain. Bentuknya beragam, misal keris, tombak, tongkat komando dan sebagainya. Pusaka Bung Karno kebanyakan berasal dari jalur ayah, kakek moyang yang kebetulan berdarah Majapahit. Sementara dari nenek atau ibu berasal dari keturunan Raja Buleleng. Dengan begitu ada juga yang berasal dari Singosari.
Pusaka itu dikumpulkan sejak Bung Karno masih muda hingga jadi presiden dan sesudahnya. Jumlahnya masih terus diinventarisasi. Sebab, pusaka itu ada beberapa yang masih di istana dan di keluarga, belum pernah dipamerkan pula.
Hingga sekarang, baru sepersepuluh benda peninggalan Bung Karno yang pernah dipamerkan. Keluarga Bung Karno merasa tidak heran bila ada beberapa pihak mengaku memiliki ‘tongkat komando’ Bung Karno. Sebab, segala sesuatu yang berhubungan dengan Bung Karno, selalu menjadi fenomena menarik. Tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. “Kalau ada yang mengklaim punya pusaka Bung Karno asli, itu urusan mereka. Apa pun klaim di luaran, itu terserah mereka,” papar Guruh pada sebuah media ibukota.
Bung Karno memang punya berbagai model tongkat komando. Tetapi yang paling sering hanya satu atau dua. Yang paling sering dibawa, tongkat dan keris yang ada di ruang hening.
Jika di masyarakat ada yang mengaku memiliki pusaka Bung Karno, tak bisa dipercaya begitu saja. Harus ada pembuktian.
Pusaka Bung Karno semua ada di keluarga dan di istana. Kalau ada keluarga tertentu merasa mempunyai pusaka, ada proses lanjut apakah bisa dibuktikan kebenarannya atau tidak.
Pada 1942 Bung Karno pernah berada di Babo, Papua. Wilayah ini punya arti dan nilai sejarah tinggi berkaitan erat dengan ‘Keris Pusaka’ yang diperoleh Bung Karno dari Gunung Nabi melalui Cosmos Werbete.
Keliopes Werbete salah seorang pelaku sejarah menceriterakan kepada wartawan setempat, Bung Karno berada di Babo ketika Perang Dunia (PD) II masih berkecamuk. Tokoh yang kemudian menjadi salah satu Proklamator RI ini diincar tentara Jepang untuk dibunuh.
Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, Bung Karno dilarikan dari Babo ke kampung Refideso oleh Cosmos Werbete, kemudian menuju Gunung Nabi. “Di Gunung keramat itulah Bung Karno diberi keris wasiat,” ungkap Keliopes kepada wartawan ibukota.
Dan setelah membawa keris tersebut, Bung Karno berhasil meloloskan diri dari percobaan pembunuhan. Tapi pada ujungnya, bersama Cosmos Werbete pemilik keris tersebut, Bung Karno diasingkan Belanda.

Soekarno dalam Dunia Supranatural



BUNG Karno sejak kecil digembleng laku kebatinan Jawa. Bersama beberapa nama terkenal, sejak usia muda Bung Karno mengkaji, mendalami dan melakoni kebatinan. Dalam perjalanan hidup yang penuh ketidakadilan justru menjadi semangat untuk bangkit dan mencari sumber keadilan yang hakiki. Perjalanan laku yang sangat tinggi dilakukannya demi mencari hakekat hidup.
Berawal dari RM Said yang belajar dari desa Mojogedang Karang Pandan, Karang Anyar Jawa Tengah. Beliau pernah berguru kepada seorang pertapa wanita yang bernama Nyai Karang. Ketika berjuang beliau melawan Belanda, RM Mas Said menggunakan markasnya di desa Nglaroha. Didampingi senopati yang sekaligus gurunya (Kudono Warso), semakin hari ilmu jaya-kawijayan RM Said semakin tinggi.
Ilmunya kemudian diturunkan kepada anak cucunyya yang meneruskan perjuangannya melawan penjajah. Salah satu cucunya adalah sahabat Kyai Santri (KPH Djoyo Koesoemo). Selain diangkat sebagai penasehat pribadi Sunan Paku Buwono IV ,Kyai Santri diakui sebagai teman dalam mengasah ilmu sastra dan kebatinan. Tidaklah mengherankan jika kemudian Paku Buwono IV di kemudian hari melahirkan serat Centini, falsafah hidup, sebagai ensiklopedinya orang Jawa.
Perjuangan melawan Belanda, mengakibatkan Kyai Santri dikejar-kejar. Akhirnya beliau memilih keluar Kraton dan keliling tanah Jawa. Menghindari kejaran Belanda, dengan berkeliling Tanah Jawa, tiga kali sambil memperdalam ilmu kebatinannya. Kyai Santri berkawan pula dengan Ronggowarsito, Mangkunegoro IV dalam mengkaji dan tukar kawruh Jawa. Pada perjalanan akhirnya beliau memilih desa Giri Jaya di lereng Gunung Salak, Sukabumi, Jawa Barat sebagai tempat perhentian terakhir. Di sanalah beliau tinggal dengan didampingi dua orang istri beliau.
Perjalanan spiritualnya mampu menghadirkan Kanjeng Ratu Kidul sebagai guru beliau, Eyang Lawu (Kaki Semar) dan Leluhur lainnya sebagai seorang Guru. Murid-murid Kyai Santri cukup banyak, selalu dididik bagimana menjadi seorang pemimpin yang baik. Pendidikan yang berdasar pada budaya Jawa asli, dimana nurani sebagai Way of Life dan pikir sebagai alat untuk memimpin. Di antara murid beliau adalah Paku Buwono (PB) IV, Mangku Negoro (MN) IV, PB VI, PB IX , PB X, MN VII, HOS Cokroaminoto, Dr Wahidin Sudiro Husodo dan yang terakhir adalah Bung Karno. Beliau hidup hingga usia 159 tahun dan meninggal pada tahun 1929 Masehi di desa Giri Jaya Sukabumi.
Murid-murid beliau adalah pejuang sejati, pemimpin nasional, pujangga dan sekaligus negarawan. Ilmu-ilmu beliau sudah mencapai tataran tingkat tinggi dan mencapai alam makrifat. Manusia harus jadi “Manungso sejati, sejatine manungso”, di mana nurani sebagai titik dan sumber tuntunan bagi kehidupan, sedangkan pikir sebagai alat untuk menjalankan tuntunan Illahi tersebut. Beliau selalu mengajarkan bagaimana manusia mampu kembali menjadi manusia yang sebenarnya.
Dengan menyelaraskan batin, pikiran, ucapan dan perbuatannya, manusia akan menjadi manusia menurut kodrat Illahi. Sukma merupakan percikan Illahi, sebagai utusan Sang Pencipta (Ha- Hananira, wahanane Hyang). Pada hakehatnya bila manusia telah mampu menyelaraskan dan menyamakan antara batin, pikiran, ucapan dan perbuatannya, manusia tersebut telah mencapai alam makrifat. Manusia tersebut mampu berada posisi “Jumbuhing kawulo gusti”. Berarti manusia itu mampu menjadi seorang pemimpin (gusti = bagusing ati).
Dengan laku tapabrata yang sebenarnya seperti di atas, manusia kembali pada asalnya, hal ini dalam budaya Jawa disebut “Sangkan paraning dumadi”. Hakekat kehidupan manusia sama dengan ciptaan lainnya, menurut hukum ekosistem. Dalam budaya Jawa dikenal dengan “Cakra manggilingan”. Bila manusia mampu meletakkan batin, pikiran, ucapan dan perbuatannya sama, maka tidak ada lagi tuntunan lain kecuali tuntunan Sang Pencipta lewat batin/nuraninya. Swara dalam batin itulah yang disebut Swara Sejati.

Sejarah Soekarno dari masa kecil



Dapat artikel menarik nih yaitu tentang sejarah pak Karno terutama kisah-kisah masa kecilnya. Amat cocok bagi teman-teman yang ingin merubah nasibnya menjadi lebih baik. BAhwa kesuksesan tidak harus dimulai dari modal yang besar saja..melainkan tekad dan semangat untuk maju dan juga tekad yang kuat untuk berhasil menggapai semua cita-cita. Lebih lanjut mengenai kisah kecil soekarno simak artikel berikut:
Bung Karno: Bisa Benjol!
Walentina Waluyanti – Holland
Buat Bung Karno, nampaknya kesengsaraan tidak ada hubungannya dengan gaya dan penampilan. Bung Karno tidak menutup-nutupi masa lalunya yang melarat. Tentang bagaimana di masa kanak-kanaknya, dirinya tidak pernah mengenal sendok dan garpu.
Bung Karno juga mengenang bagaimana anak tetangga lain yang juga miskin, tapi mereka masih bisa membeli jajan buah pepaya dan lainnya, sementara dirinya sama sekali tidak mampu. Bahkan di hari Idul Fitri, dia cuma bisa menatap sedih anak-anak miskin lain mampu membeli petasan yang harganya cuma satu sen itu, sedang dirinya tidak. Satu sen pun dia tak punya!
Dia juga menceritakan, bagaimana di keluarganya dulu bahkan makan satu kali sehari pun, kadang tidak mampu. Tak jarang mereka hanya makan ubi kayu dan jagung tumbuk. Untuk membeli beras paling murah pun, ibunya tak sanggup. Solusinya, ibunya membeli padi yang masih harus ditumbuk untuk memperoleh butiran beras. Karena dengan cara begitu, mereka dapat menghemat uang satu sen dan dengan satu sen itu ibunya bisa membeli sayur.
Mungkin juga karena tumbuh dalam kondisi serba terbatas itu, Bung Karno tumbuh sebagai anak penyakitan. Kata Bung Karno, “Aku memulai hidup ini sebagai anak yang penyakitan. Aku mendapat malaria, disentri, semua penyakit dan setiap penyakit”. Menurut kepercayaan tradisional, anak sakit-sakitan harus diganti namanya. Karena itu Kusno nama kecilnya, diganti ayahnya menjadi Soekarno.
Ketika kelak tumbuh sebagai remaja, dan sudah mempunyai kesadaran berpenampilan, kemiskinan itu tampaknya tak mempengaruhi Bung Karno dalam bergaya.
Kiriman uang saku dari orangtuanya dan ekstra uang saku dari Pak Poegoeh kakak iparnya di Surabaya, dihematnya sen demi sen. Namun itu tak berarti dirinya tidak bisa tampil keren. Tampak dari foto-fotonya, sejak muda Bung Karno selalu berbusana apik dan menawan. Biar kalah nasi, yang penting tidak kalah aksi! Tampaknya sejak muda Bung Karno sudah punya bakat sebagai pencipta trend mode di jamannya.
Di dalam buku “Sukarno Penjambung Lidah Rakjat”, Bung Karno bercerita tentang perselisihannya dengan penghulu. Ketika itu akan dilangsungkan pernikahannya dengan Utari, putri HOS Tjokroaminoto. Itu adalah pernikahan pertama bagi Bung Karno. Penghulu memintanya untuk melepaskan dasinya. Soalnya dasi itu dianggap simbol budaya Kristen. Bung Karno tidak bisa mengerti larangan itu. Dia berusaha menjelaskan, dirinya sangat menyukai berpakaian pantas dan rapi. Tapi penghulu tidak mau menerima alasan itu. Karena Bung Karno tetap ngotot mengenakan dasi, penghulu mulai menggertak. Penghulu menolak menikahkan jika Bung Karno tidak melepaskan dasinya!
Bukannya ciut oleh gertakan tadi, Bung Karno malah semakin marah. Persetan! Rasanya dia lebih baik tidak menikah saja kalau soal berpenampilan pun, dirinya mesti diatur-atur. Bung Karno menulis, “Dalam hal ini biarpun Nabi sendiri sekalipun, takkan sanggup menyuruhku untuk menanggalkan dasi”. Bung Karno menjadi emosi oleh penghulu yang mencoba mengatur dan mengancamnya. Lalu dia menggeledek, “Persetan, tuan-tuan semua. Saya pemberontak, dan saya akan selalu memberontak, saya tidak mau didikte orang di hari perkawinan saya!”.
Sebagaimana umumnya lelaki, Bung Karno juga pernah berusaha menumbuhkan kumisnya. Mungkin bisa tampak lebih gagah dan ganteng. Tapi sayang usaha itu sia-sia. Kumisnya hanya tumbuh sebaris tipis saja. Sejak itu dia tidak pernah lagi mencoba-coba jadi “Pak Kumis”. Tetap bergaya klimis rapi.

Di sebuah majalah jadul, saya pernah membaca wawancara dengan Dewi Soekarno. Dewi bercerita tentang bagaimana Bung Karno tetap memperhatikan penampilannya, juga ketika usianya beranjak senja. Bung Karno sering memintanya menolong bukan saja mengecat rambutnya yang beruban, tapi juga alisnya! Sebelum Bung Karno berpidato, untuk menyamarkan pucat di wajahnya, tak jarang Dewi membubuhi sedikit rona merah dengan pupur membayang tipis di wajah suaminya itu.
Kesukaan Bung Karno akan gaya dan penampilan mematahkan pendapat orang tentang pria Jawa yang umumnya berpenampilan seadanya. Sudah banyak yang membahas bagaimana peran Bung Karno sebagai trend setter mode pria di Indonesia. Mulai dari idenya tentang pemakaian kopiah yang hingga kini dipakai pria Indonesia dan menjadi salah satu identitas bangsa. Juga gaya busananya yang banyak ditiru pria di jamannya. Misalnya stelan jas putih dan baju safari lengan pendek maupun lengan panjang.

Baju kepresidenannya yang bergaya militer membuatnya tampak gagah berdampingan dengan pemimpin dunia lainnya. Baju itu adalah hasil rancangannya sendiri. Karena itu Bung Karno pernah tersinggung dengan kritik Kepala Staf Angkatan Perang TB Simatupang (kala itu masih kolonel) yang menyarankan Bung Karno agar tidak memakai baju militer dengan segala atributnya itu.
Sejak menjadi pemimpin bangsa, Bung Karno tak pernah tampak mengenakan pakaian adat yang mewakili suku tertentu. Dia punya alasan khusus tentang ini. Bukan karena tidak mencintai tradisi. Justru sebaliknya dialah penganjur tradisi budaya, termasuk pakaian adat. Namun sebagai kepala negara, dia memposisikan dirinya harus netral berdiri di atas semua golongan demi persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itu dia mengorbankan identitas sukunya dengan sama sekali tidak pernah berpakaian daerah.
Walaupun semasa menjadi presiden tidak pernah berbusana daerah, namun Sukarno punya kepedulian terhadap pelestarian batik. Sukarno menghidupkan tradisi pameran batik di istana negara. Salah satu konsep Sukarno tentang batik khas Indonesia yaitu batik motif Terang Bulan. Motif batik ini kemudian dirintis dan diwujudkan oleh Ibu Sud atau Saridjah Niung Bintang Soedibjo.
Dulu Bung Karno sering meledek Ibu Sud yang berpinggul besar itu dengan julukan “bokong gede”, menunjukkan pertemanan mereka yang akrab. Karena keakraban itu, Ibu Sud paham bagaimana menerjemahkan batik Indonesia konsep Bung Karno. Selain dikenal sebagai pencipta lagu kanak-kanak, Ibu Sud (nenek disainer busana Carmanita) ini memang juga seorang pembatik. Motif batik Terang Bulan konsep Sukarno adalah batik yang mengkombinasikan motif batik kraton dan batik pesisir.

Batik Terang Bulan Konsep Bung Karno yang diwujudkan Ibu Sud
Orang sering menggeneralisir adat etnis dengan cara seseorang dalam berpenampilan. Pada Sukarno, gaya dan penampilannya lebih pada soal insting, selera, kesadaran dan pemahamannya tentang estetika. Bukan sekedar karena harus menjaga penampilan sebagai kepala negara . Karena jauh sebelum menjadi pemimpin bangsa pun, penampilannya selalu terjaga apik, sampai rela adu mulut dengan penghulu nikah.
Kecenderungannya untuk selalu tampil representatif nampaknya memang sudah bakat natural-nya. Sudah dimulai sejak remaja. Selalu tampak begitu flamboyan. Sukarno memang punya selera. Sebagaimana dikatakannya ketika membetulkan dasi Menhan Amerika, “Tuan punya bom atom, tapi kami punya seni yang tinggi!”. Kesenimanan Sukarno membuatnya memandang mode dan gaya juga adalah bagian dari seni.
Itu diakuinya sendiri ketika perasaannya remuk akibat dikurung di penjara Banceuy Bandung yang lebarnya 1,50 meter dan panjangnya seperti peti mayat. Dikatakannya, “….aku rasanya hendak mati. Pengalaman yang meremukkan. Aku adalah seorang yang biasa rapi dan pemilih. Aku adalah orang yang suka memuaskan perasaan. Aku menyukai pakaian bagus….”.
Ketika Bung Karno sekeluarga tiba di Jakarta 9 Juli 1942 dari pengasingannya di Sumatera, topik yang paling pertama ditanyakannya adalah “mencari tukang jahit”. Saat itu kapal laut “Van Riebeeck” yang ditumpanginya berlabuh di pelabuhan Pasar Ikan, di Penjaringan Jakarta Utara. Di masa lalu pelabuhan Pasar Ikan dikenal juga dengan nama Pelabuhan Sunda Kelapa.

Berita kembalinya Bung Karno di Jawa, setelah pembuangan di Sumatera
Orang pertama yang menjemputnya di pelabuhan itu adalah Anwar Tjokroaminoto, adik Utari, bekas adik iparnya. Melihat jas Anwar yang keren, Bung Karno lalu menyadari jas putih plus celana kedodoran yang dikenakannya sudah ketinggalan jaman. Betapa berbeda dengan stelan jas Anwar warna ivory yang dilihatnya jauh lebih modern.
“Jasmu bagus sekali potongannya”, puji Bung Karno. Anwar hidungnya kembang kempis dipuji Bung Karno. “Bikinan penjahit De Koning”, sahut Anwar berlagak. Anwar lalu buka rahasia bagaimana caranya ke penjahit itu, dengan harga miring. “Melalui pintu belakang”, bisik Anwar. Bung Karno segera tertarik ingin menjahit bajunya di penjahit yang tergolong penjahit terbaik dan mahal di Jakarta di kala itu. “Apa dia mau menjahit untukku?”, tanya Bung Karno pada Anwar. Percakapan selanjutnya antara keduanya bukan tentang strategi perjuangan, tapi kasak-kusuk tentang baju. Nah, ternyata omong-omong soal baju bagus bukan cuma monopoli perempuan saja.
Di kemudian hari, Bung Karno yang pesolek melengkapi gaya busananya dengan tongkat komando. Banyak orang percaya, tongkat komando itu adalah jimat saktinya. Tapi Bung Karno membantah. Tongkat komando itu semata-mata untuk menunjang gayanya. Dia menyebut dirinya “pelagak”. Dia berkata bahwa tongkatnya sama sekali tidak sakti, “tapi kalau diketok di jidat, ya bisa benjol”.

Bung Karno: Tongkat komando ini tidak sakti, tapi bisa bikin benjol!
Ide, inspirasi, karya, cita-cita memang tidak perlu selalu ditentukan oleh mahal dan mewahnya gaya hidup, gaya berbusana dan gaya berpenampilan. Dengan kepantasannya mempresentasikan diri, Bung Karno mampu memberi citra tersendiri bagi bangsanya di dunia internasional. Padahal kondisi Indonesia ketika itu masih begitu miskin. Dengan gayanya sebagai “pelagak”, dia mampu menyejajarkan bangsanya dengan para penista kemiskinan yang pongah itu.
Ya, apa salahnya jika gaya dan penampilan bisa membuat seseorang menjadi bergairah dan inspiratif dalam mewujudkan ide, karya dan cita-citanya?
Walaupun senang bergaya, Bung Karno tidak silau harta. Di akhir kekuasaannya, kala dipaksa meninggalkan istana oleh Suharto, Bung Karno ternyata tidak turut membawa serta kemeja-kemeja favoritnya “Arrow”, arloji Rolex dan benda berharga lainnya. Semua itu digeletakkannya begitu saja.

Kemeja Arrow di balik jas Bung Karno
Menurut kesaksian Sogol Djauhari Abdul Muchid (anggota Detasemen Kawal Pribadi/DKP), Bung Karno meninggalkan istana sebelum 16 Agustus 1967, hanya ber-kaos oblong cap cabe, celana piyama krem dan bersandal merk Bata yang sudah usang. Di pundaknya tersampir baju piyama-nya.
Tangan kanannya menggenggam sesuatu yang sangat berharga. Lebih berharga daripada kemeja Arrow, parfum Shalimar favoritnya, uang dollar dan emas batangan yang tak ikut dibawanya, dan hingga kini tak diketahui di mana semua itu. Hanya satu benda yang dibawanya ketika meninggalkan istana. Benda yang merupakan simbol dari 1001 kisah pengorbanannya untuk bangsanya. Itulah yang digenggamnya erat, yaitu bendera pusaka yang dibungkus gulungan kertas koran, hasil jahitan Fatmawati istrinya. Toh walau berkaos oblong seadanya, semua itu tidak membuat kewibawaannya serta merta sirna.
Wibawanya itu bahkan tetap hidup hingga kini, walaupun jauh sebelumnya dia sudah mengalami “pembunuhan” secara perlahan di pengasingannya di Wisma Yaso. Bung Karno seakan menyadari itu. Karena itu, menurut Sidarto Danusubroto ajudannya, Bung Karno menulis di bukunya kalimat filsuf Jerman Ferdinand Freiligrath, “ Man töten den Geist nicht”. Ya, tak ada yang bisa membunuh jiwa.
Gaya dan penampilan memang tidak kekal. Tapi melalui kekekalan jiwanya, gaya dan penampilan Bung Karno menjadi kenangan kekal yang tetap tergores dalam sejarah.

KERIS JALAK TILAM SARI PAJAJARAN

Keris : dapur jalak tilam sari
pamor : nunggak semi + untu walang tiban + wengkon isen
tangguh / perkiraan masa pembuatan: jaman kerajaan Pajajaran
Warangka : ladrang solo








 MAKNA KERIS TILAM SARI
 Maksud di sebalik falsafah empu terhadap dapur Tilam Sari adalah mengambil pengertian Tilam sebagai tempat pembaringan, tempat beristirahat dan daripada segi bahasa moden bermaksud tempat tinggal. Sari pula bermaksud harum, wangi, semerbak.
Pengertian Tilam Sari apabila di cantumkan adalah membawa makna bagi mendapatkan tempat berteduh yang harum semerbak baik di hadapan Tuhan Yang Maha Esa maupun sesama manusia. Konsep doa daripada empu yang diharapkan terhadap keris berdapur Tilam Sari adalah agar pemilik atau penghuni rumah yang merawat keris berdapur Tilam Sari akan selalu mendapatkan kemuliaan, kebahagiaan, kedamaian, nama yang harum, dihormati orang disekelilingnya dan selalu mendapatkan perlindungan keselamatan daripada Tuhan Yang Maha Esa.


TUNGGAK SEMI.
 Pamor ini terletak ditengah Sor-soran, bentuk seperti tampak digambar samping. Berkombinasi dengan pamor Wos Wutah. Tuahnya untuk mendapatkan rejeki walau bagaimanapun kecilnya. Tidak termasuk pamor pemilih.

Ada yang menamakan pamor Tepen. Bentuknya mirip bingkai (wengkon artinya bingkai). Tuahnya untuk perlindungan, ada yang untuk menghindari dari godaan, ada yang memperbesar rasa hemat dan ada yang untuk menghindari dari guna-guna. 

Arti harafiahnya “Gigi Belalang”, tuahnya menambah kewibawaan seseorang. Dituruti kata katanya dan pamor ini tergolong pemilih, hanya orang yang punya kedudukan cukup tinggi bisa cocok. Untuk guru dan pendidik biasanya juga cocok. 
BILA ALLAH BERKEHENDAK SEMUA BISA TERJADI
Salam budaya

KERIS JALAK TILAM SARI MAJAPAHIT

Keris dapur : Jalak tilam sari
Pamor : Rojo gundolo ( orang tahiyat) + wos wutah
tangguh /perkiraan pembuatan jaman kerajaan majapahit
Warangka Gayaman






Sejarah Keris Tilam Sari

Keris ini di anggarkan telah di buat pada abad ke 15 iaitu di zaman Kerajaan Majapahit Runtuh (akhir). Berdasarkan fakta sejarah, semasa Kerajaan Majapahit dengan rajanya bernama Brawijaya Pamungkas atau Bre Kertabumi (Brawijaya V), beliau telah pergi ke Gunung Lawu kemudian Moksa yang masih terdapatnya Kerajaan Majapahit akan tetapi bukan lagi sebagai kerajaan yang besar. Pusat Kerajaan Tanah Jawa ketika itu ada di Demak Bintoro.
Ketika itulah, adanya seorang empu yang telah mengabdi dirinya kepada Kerajaan Majapahit sehingga pemerintahan Raja Brawijaya yang ke VII.

Maksud di sebalik falsafah empu terhadap dapur Tilam Sari adalah mengambil pengertian Tilam sebagai tempat pembaringan, tempat beristirahat dan daripada segi bahasa moden bermaksud tempat tinggal. Sari pula bermaksud harum, wangi, semerbak.
Pengertian Tilam Sari apabila di cantumkan adalah membawa makna bagi mendapatkan tempat berteduh yang harum semerbak baik di hadapan Tuhan Yang Maha Esa maupun sesama manusia. Konsep doa daripada empu yang diharapkan terhadap keris berdapur Tilam Sari adalah agar pemilik atau penghuni rumah yang merawat keris berdapur Tilam Sari akan selalu mendapatkan kemuliaan, kebahagiaan, kedamaian, nama yang harum, dihormati orang disekelilingnya dan selalu mendapatkan perlindungan keselamatan daripada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagian orang menyebut Gundolorojo. Umumnya terletak ditengah sor-soran, namun adakalanya terletak agak ketengah bilah keris. Bentuknya mirip gambar mahluk yang menakutkan, kadang seperti perempuan kadang seperti laki-laki atau juga hewan. Rojogundolo yang bertuah biasanya yang dari pamor tiban dan bukan rekan.
Umumnya bersifat perlindungan terhadap pemiliknya, bisa digunakan menolak guna-guna, memindahkan mahluk halus, membersihkan rumah “angker” bahkan jika kerisnya istimewa bisa digunakan menyembuhkan orang yang kesurupan. Tergolong pamor tidak pemilih dan bisa juga terdapat di tombak atau pedang.

Pamor yang paling banyak dijumpai, bentuknya tidak teratur tetapi tetap indah dan umumnya tersebar dipermukaan bilah. Ada yang berpendapat pamor ini pamor gagal, saat si empu ingin membuat sesuatu pamor tetapi gagal maka jadilah Wos Wutah. Tetapi ini dibantah dan beberapa empu dan pamor ini memang sengaja dibuat serta termasuk pamor tiban. Pamor ini berkhasiat baik untuk ketentraman dan keselamatan pemiliknya, bisa digunakan untuk mencari rejeki, cukup wibawa dan disayang orang sekelilingnya, pamor ini tidak pemilih.   
SEGALANYA ATAS KEHENDAK ALLAH
Salam Budaya